Tari Kinyah Mandau, Tarian Dengan Unsur Bela Diri, Perang, Dan Teater Tari Kinyah Mandau, Tarian Dengan Unsur Bela Diri, Perang, Dan Teater

Foto: merahputih

  • RAA
  • Jumat, 04 Juni 2021 - 09:10 WIB

Tari Kinyah Mandau, Tarian Dengan Unsur Bela Diri, Perang, Dan Teater


Tari Kinyah Mandau adalah tarian tradisional yang berasal dari Kalimantan Tengah. Tarian ini merupakan tarian suku Dayak yang menampilkan unsur seni bela diri, seni perang, dan seni teater.


Tarian ini sangat terkenal bahkan hampir semua suku Dayak di Kalimantan memiliki jenis tarian ini.


Khususnya di Kalimantan Tengah, biasa disebut dengan Tari Kinyah Mandau. Nama Tari Kinyah Mandau sendiri diambil dari kata kinyah yang berarti tarian perang dan menggunakan mandau sebagai senjata.


Tari Kinyah Mandau berasal dari tradisi suku Dayak zaman dahulu yang disebut kinyah, yaitu tarian perang dalam persiapan untuk membunuh dan memburu kepala musuh. 

Pada masa itu pemuda Dayak harus pergi berburu kepala dengan alasan yang berbeda di setiap sub suku. Sebagai persiapan fisik dalam berburu maka lakukan kinyah atau tarian perang ini.

Hampir semua sub suku Dayak memiliki tarian perang ini. Dahulu tarian ini dilakukan di desa untuk melihat dan juga mengamati pemuda mana yang siap dilepasliarkan ke hutan untuk memburu kepala siapapun yang ditemuinya.

Namun ada aturan dalam tradisi berburu kepala ini, yaitu tidak diperbolehkan membunuh dari desa itu sendiri.

Saat itu ada tiga istilah yang sangat ditakuti, pertama hapini, yaitu saling membunuh, kedua hakayau, yaitu saling memenggal kepala dan ketiga hajipen, yaitu diperbudak. 


Hukum rimba sangat lazim pada waktu itu, yang berkuasa adalah penguasa. Setiap anak suku Dayak yang berhasil mendapatkan kepala manusia akan diberi tato di betisnya untuk menunjukkan bahwa anak ini telah dewasa.

Namun tradisi pengayauan atau headhunting ini berakhir pada saat perjanjian damai Tumbang Anoi.

Saat kesepakatan damai ini terjadi, para pemimpin sub suku Dayak bertemu dan berdamai.


Setelah kesepakatan selesai maka setiap sub suku Dayak akan menunjukkan gerakan kinyahnya masing-masing dan juga setiap sub suku Dayak yang hadir dapat melihatnya.

Sejak saat itu sekat rahasia yang mencurigakan di antara sub-suku Dayak diruntuhkan.


Saat perjanjian damai, Sub suku Oot Danum memperlihatkan gerakan kinyahnya. Karena sub suku Oot Danum sangat terkenal dengan gerakan dan teknik berbahaya dalam membunuh musuh-musuhnya.

Gerakan dalam kinyah ini bervariasi karena setiap sub suku Dayak memiliki jurus atau jurus rahasianya masing-masing.

Konon jika mengajarkan perpindahan ke suku lain akan dianggap khianat dan akan dihukum mati.

Namun, setelah perjanjian damai, peraturan tersebut tidak berlaku lagi. Karena setelah perjanjian itu, semua sub suku Dayak bersatu dan tidak ada kecurigaan rahasia di antara sub suku.


Dalam pertunjukannya, tarian ini tidak hanya dibawakan oleh laki-laki, tetapi juga oleh perempuan. Setiap penari dilengkapi dengan senjata berupa mandau dan talawang atau tameng, namun ada juga yang menggunakan sumpit sebagai senjatanya.