Foto: kompasiana
Inilah Dia Tradisi Unik Masyarakat Sumba
Salah satu tradisi yang masih dianut oleh masyarakat Sumba adalah Agama Marapu. Agama ini memiliki kepercayaan dalam memuja leluhur.
Masyarakat yang tinggal di desa adat atau pedalaman biasanya masih menganut agama ini.
Selain kepercayaan Marapu, berikut adalah tradisi unik masyarakat Sumba lainnya.
Kede
Foto: idntimes
Kede adalah upacara kematian dalam tradisi Sumba. Keluarga dan kerabat dari orang yang meninggal akan mengirimkan ternak ke kediaman almarhum.
Berbeda dengan perkawinan Sumba, di kede tidak ada batasan jumlah ternak yang harus diberikan.
Setelah ternak diterima, keluarga yang berduka langsung menyembelih hewan tersebut, lalu dimasak dan disajikan kepada pelayat.
Prosesi ini hampir sama dengan tradisi Tana Toraja namun minus prosesi adu kerbau.
Cium Hidung

Foto: tribunews
Tradisi unik yang bisa ditemukan saat berkunjung ke Pulau Sumba adalah tradisi mencium hidung atau “pudduk” (dalam bahasa Sumba Timur).
Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang masyarakat Sumba.
Tradisi cium hidung bagi masyarakat Sumba merupakan simbol kedekatan kekeluargaan dan persahabatan.
Jika ada pihak yang berkonflik dan ingin berdamai, maka akan dilakukan ciuman hidung yang merupakan simbol perdamaian.
Meski tradisi cium hidung sudah menjadi kebiasaan dan kebiasaan masyarakat Sumba, namun tradisi ini tidak bisa dilakukan di sembarang tempat dan waktu.
Tradisi ini hanya dapat dilakukan pada saat-saat tertentu saja, seperti pada proses pelaksanaan tradisi perkawinan, pernikahan, ulang tahun, hari besar keagamaan, pesta adat, acara duka dan damai.
Pahilir

Foto: kompasiana
Tradisi unik masyarakat Sumba lainnya yang belum banyak dikenal oleh banyak orang adalah “Tradisi Pahillir” atau dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai “tradisi menghindar”.
Tradisi ini tidak mengizinkan “menantu perempuan dan ayah mertua atau menantu dan ibu mertua” untuk berkomunikasi atau melakukan kontak langsung, bahkan barang milik satu sama lain dan tidak boleh disentuh.
Bagi masyarakat Sumba, hal tersebut dianggap “tabu” dan tidak pantas, sehingga ketika bertemu harus dijauhi atau di Sumba Timur dikenal dengan “pahilir”.
