Inilah Budaya Unik Masyarakat Toraja Inilah Budaya Unik Masyarakat Toraja

Foto: arsy

  • RAA
  • Sabtu, 17 April 2021 - 09:14 WIB

Inilah Budaya Unik Masyarakat Toraja


Bagi kebanyakan orang, kematian adalah hal yang menakutkan. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi masyarakat Tana Toraja di Provinsi Sulawesi Selatan.

Secara turun-temurun, masyarakat Toraja menjadikan kematian sebagai topik sehari-hari.

Mereka percaya bahwa kematian adalah tonggak terakhir untuk mencapai kehidupan yang paling kekal.

Apalagi Suku Toraja memiliki banyak tradisi mengabadikan jenazah yang cukup populer dalam berbagai hal, mirip dengan mumifikasi di Mesir.

Meski terdengar menyeramkan, namun ragam tradisi ini justru menjadi daya tarik wisata lokal yang sangat unik dan menarik untuk dijelajahi.

Tau tau


Foto: kumparan

Kalau ke Toraja dan melihat beberapa boneka kayu lucu yang bertumpu di tebing, ya, sebenarnya itu bukan boneka mainan.

Mereka disebut Tau-tau. Tau tau adalah pahatan yang menyerupai orang yang sudah meninggal yang dikuburkan di tebing.

Tujuan dari melakukan ini, agar roh seseorang yang meninggal akan disimpan abadi di sana. Karena dianggap sakral, Tau-tau tidak boleh disentuh.

Bori Kalimbuang


Foto: kumparan

Bori Kalimbuang merupakan salah satu warisan dunia UNESCO yang terletak di Desa Bori, Kecamatan Sesean, Kabupaten Toraja Utara.

Atraksi wisata yang sudah ada sejak 1718 ini mirip dengan Stonehenge di Inggris. Keduanya memiliki batu yang berdiri tegak dengan berbagai ukuran atau yang dikenal dengan menhir.


Bedanya, batu di Bori Kalimbuang tidak melalui proses alami, melainkan dibentuk terlebih dahulu dan ditanam di dalam tanah. Pembentukan dan penanaman batu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.

Deretan batu purba ini merupakan media bagi masyarakat Toraja untuk memuja leluhurnya. Uniknya, Bori Kalimbuang merupakan tempat diadakannya ritual Rante Kalimbuang, pemakaman khas tradisi Rambu Solo yang melibatkan pengorbanan daging.

Kambira


Foto: arsy

Kematian merupakan masalah suci bagi orang Toraja, termasuk bagi bayi yang baru lahir.

Masyarakat Toraja percaya bahwa jika bayi yang meninggal di usia di bawah enam bulan harus dikembalikan ke rahim ibunya.

Pohon Tarra yang kaya getah berperan sebagai pengganti ASI yang merupakan tempat kelahiran bayi yang sempurna. Prosesi ritual kematian bayi ini disebut Kambira.