Suku Baduy, Suku Asli Propinsi Banten Suku Baduy, Suku Asli Propinsi Banten

Foto: CNN

  • RAA
  • Rabu, 14 April 2021 - 14:07 WIB

Suku Baduy, Suku Asli Propinsi Banten


Indonesia memiliki banyak suku yang tersebar mulai dari pulau Sumatera hingga Papua dan jumlahnya bisa mencapai ribuan.


Pulau Jawa merupakan salah satu yang memiliki suku terbanyak dan salah satunya adalah Suku Baduy.

Suku Baduy merupakan suku asli provinsi Banten yang terletak tepatnya di Kabupaten Lebak, Banten.Tradisi dan budaya menjadi satu hal yang sangat dilestarikan oleh masyarakat Baduy.

 
Suku Baduy ditetapkan sebagai tempat cagar budaya oleh Pemerintah Daerah Lebak pada tahun 1990 karena kawasan yang melintas dari Desa Ciboleger hingga Desa Rangkasbitung ini menjadi tempat tinggal masyarakat Baduy yang merupakan penduduk asli Provinsi Banten.

Suku Baduy sendiri terdiri dari dua kelompok yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. 

Perbedaan mendasar antara kedua kelompok tersebut terlihat dari cara mereka menerapkan aturan adat.


Suku Baduy Dalam masih menjunjung tinggi tradisi dan menerapkan aturan dengan baik, sedangkan Baduy Luar sudah terpengaruh budaya luar.

Suku Baduy Dalam merupakan kelompok yang hidup di hutan dan juga paling patuh pada aturan yang ditetapkan oleh kepala adat mereka.

 

Ciri khas mereka dalam hal ini adalah pakaiannya tidak berkancing dan berkerah, tidak memakai alas kaki dan pakaiannya hanya berwarna putih yang melambangkan kesucian dan budaya yang tidak terpengaruh dari dunia luar.

Suku Indonesia ini juga tidak mengikuti modernisasi dan menolak teknologi, uang dan sekolah.


Mereka hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa asli mereka yaitu bahasa Sunda dan membaca huruf atau aksara Hanacara.


Suku Baduy Dalam mendiami tiga desa yaitu Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo yang dipimpin oleh pemimpin adat bernama Pu'un.


Pu'un didampingi oleh Jaro sebagai wakilnya bertugas menentukan masa tanam dan masa panen, serta menerapkan hukum adat dan mengobati orang sakit.


Berbeda dengan Baduy Dalam, Baduy Luar tinggal di wilayah yang mengelilingi pemukiman Baduy Dalam.

Suku luar ini telah menerima modernisasi dan juga mengenal budaya asing seperti sekolah dan uang.


Karena sudah mengetahui uang, beberapa orang Baduy Luar pergi keluar untuk menjual madu hutan.

Pakaian yang dikenakan oleh Baduy Luar juga berbeda dengan Baduy Dalam yang berwarna hitam.


Suku Baduy Luar tinggal di 50 desa di wilayah Pegunungan Kendeng.