Kisah Suku Asmat, Salah Satu Suku Terbesar Di Papua Kisah Suku Asmat, Salah Satu Suku Terbesar Di Papua

Foto: merahputih

  • RAA
  • Selasa, 13 April 2021 - 12:54 WIB

Kisah Suku Asmat, Salah Satu Suku Terbesar Di Papua


Di zaman kuno, Dewa bernama Fumeripitsy turun ke bumi. Dia menjelajahi bumi dan memulai petualangannya dari ufuk barat matahari terbenam.


Dalam petualangannya, Dewa harus menghadapi seekor buaya raksasa dan berhasil mengalahkannya. Meski menang, Dewa terluka parah dan terdampar di tepi sungai.

 

Sambil menahan rasa sakit tersebut Dewa berusaha bertahan hingga akhirnya ia bertemu dengan seekor burung flamingo yang memiliki hati yang mulia dan merawatnya hingga ia sembuh dari lukanya. 

Setelah sembuh, Dewa tinggal di daerah tersebut dan membuat rumah dan mengukir dua patung yang sangat indah.

 
Fumeripitsy pun membuat gendang yang sangat keras untuk menemaninya menari tanpa henti.

Gerakan dewa yang begitu dahsyat mampu membuat kedua patung yang diukirnya menjadi hidup.


Tak lama kemudian, kedua arca tersebut ikut menari dan bergerak bersama mengikuti Sang Dewa.


Kedua arca tersebut merupakan pasangan manusia pertama yang menjadi nenek moyang Suku Asmat.


Penggalan mitologi di atas merupakan kepercayaan yang dianut oleh Suku Asmat, salah satu suku terbesar di Papua.


Mitos ini membuat Suku Asmat masih percaya bahwa mereka adalah titisan Dewa hingga saat ini. 


Tidak berlebihan, karena suku Asmat memang memiliki budaya yang sangat disegani.

 
Nyatanya suku ini sudah dikenal hingga mancanegara dan banyak peneliti dari seluruh dunia sering berkunjung ke desa suku Asmat.


Mereka umumnya tertarik mempelajari kehidupan suku Asmat, sistem kepercayaan mereka, dan juga adat istiadat suku Asmat yang unik.


 

Suku Asmat sendiri sebenarnya terbagi menjadi dua, yaitu suku yang tinggal di pesisir pantai dan suku Asmat yang tinggal di pedalaman. Gaya hidup, cara berpikir, tatanan sosial dan kehidupan sehari-hari kedua suku Asmat ini sangat berbeda.

Suku Asmat sendiri sebenarnya terbagi menjadi dua, yaitu suku yang tinggal di pesisir pantai dan suku Asmat yang tinggal di pedalaman.


Gaya hidup, cara berpikir, tatanan sosial dan kehidupan sehari-hari kedua suku Asmat ini sangat berbeda.

Misalnya dari segi mata pencahariannya, Suku Asmat yang tinggal di pedesaan biasanya memiliki pekerjaan sebagai pemburu dan petani kebun, sedangkan yang tinggal di pesisir lebih memilih menjadi nelayan untuk mata pencahariannya. 


Perbedaan kedua populasi tersebut juga disebabkan oleh kondisi wilayah tempat tinggal mereka dan besarnya pengaruh komunitas pendatang yang umumnya lebih terbuka dibandingkan dengan budaya Asmat itu sendiri.

 

Meski “dua Asmat” memiliki banyak perbedaan, keduanya memiliki karakteristik yang sama, misalnya dari segi ciri fisik.


Suku Asmat memiliki tinggi rata-rata sekitar 172 cm untuk pria dan 162 cm untuk wanita. Kulit mereka umumnya hitam dengan rambut keriting. 
Ciri fisik ini disebabkan Suku Asmat masih merupakan keturunan Polinesia.

Suku Asmat sangat terkenal dengan tradisi dan keseniannya. Mereka dikenal sebagai pemahat handal dan diakui secara internasional.


Ukiran suku Asmat dibuat dalam berbagai jenis dan variatif. Namun biasanya ukiran tersebut menceritakan tentang sesuatu, seperti cerita nenek moyang, kehidupan sehari-hari dan kecintaan mereka pada alam. Keunikan ukiran inilah yang membuat nama Suku Asmat begitu mendunia saat ini.

Suku Asmat juga memiliki banyak seni tari dan nyanyian. Mereka menampilkan kesenian tersebut saat menyambut tamu, saat panen dan saat menghormati arwah leluhur.


Mereka sangat menghormati leluhurnya, hal ini terlihat dari setiap tradisi yang mereka miliki.


Meski kini budaya modern telah banyak berpengaruh dalam kehidupan mereka, namun tradisi dan adat istiadat Asmat akan selalu ada.