Naik Kelas, Indonesia Bukan Sekedar Ekspor Bahan Mentah Naik Kelas, Indonesia Bukan Sekedar Ekspor Bahan Mentah

Foto: pixabay

  • RAA
  • Sabtu, 30 Agustus 2025 - 19:14 WIB

Naik Kelas, Indonesia Bukan Sekedar Ekspor Bahan Mentah


Indonesia merupakan pengekspor berbagai komoditas perkebunan andalan dunia, seperti kopi, kakao, karet, kelapa, kelapa sawit, dan lada. Sayangnya, sebagian besar ekspor masih didominasi oleh produk mentah atau setengah jadi, sehingga nilai yang diperoleh negara tidak optimal dibandingkan potensi sebenarnya.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor sektor pertanian Indonesia pada tahun 2022 mencapai US$44,44 miliar (sekitar Rp689 triliun), meningkat 3,2% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan surplus perdagangan sebesar US$18,62 miliar. Namun, pada Semester I-2023, meskipun volume ekspor meningkat 12,9%, nilai ekspornya justru turun 17,8% menjadi US$22,67 miliar.

Pasar Australia yang luas berpotensi menjadi tujuan ekspor untuk produk olahan Indonesia seperti kopi, cokelat, minyak kelapa, dan barang niche lainnya. Namun, implementasi IA-CEPA hingga kini belum menunjukkan hasil maksimal. Sebuah studi tahun 2024 mencatat bahwa ekspor kopi Indonesia ke Australia justru menurun sejak perjanjian ini berlaku. Hal ini membuktikan bahwa perjanjian dagang saja tidak cukup untuk meningkatkan ekspor tanpa didukung strategi penetrasi pasar yang tepat. Karena itu, pemerintah dan pelaku usaha harus aktif mempromosikan produk, memahami preferensi konsumen Australia, serta memastikan produk memiliki kualitas dan harga yang kompetitif di pasar yang sangat terbuka ini.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada ekspor bahan mentah sangat berisiko. Ketika harga komoditas global mengalami penurunan, pendapatan devisa negara juga turut merosot. Oleh karena itu, diperlukan perubahan kebijakan yang mendorong hilirisasi industri komoditas agar Indonesia dapat mengekspor lebih banyak produk olahan yang memiliki nilai tambah tinggi.

Transformasi industri melalui hilirisasi perlu diwujudkan dengan menghasilkan produk-produk turunan yang inovatif, mulai dari kopi instan berkualitas, produk cokelat olahan, hingga barang jadi dari karet seperti ban dan sarung tangan, serta turunan sawit seperti minyak goreng bermerek, biodiesel, dan oleokimia.

Perluasan pasar global sangat penting dalam mendorong ekspor produk olahan. Berbagai perjanjian perdagangan bebas (FTA) memainkan peran kunci dalam hal ini. FTA umumnya menurunkan tarif impor, khususnya untuk produk manufaktur, sehingga menghilangkan hambatan yang selama ini mengurangi daya saing ekspor olahan Indonesia.

Sebagai contoh, Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) yang berlaku sejak 2022 menciptakan blok perdagangan terbesar di dunia, mencakup sekitar 30% PDB dan populasi global. Kawasan ini melibatkan 15 negara Asia-Pasifik, termasuk pasar utama Indonesia seperti Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan negara-negara ASEAN.