Cokelat Indonesia, Harapan Tinggi Penggerak Ekonomi Cokelat Indonesia, Harapan Tinggi Penggerak Ekonomi

  • RAA
  • Sabtu, 30 Agustus 2025 - 11:44 WIB

Cokelat Indonesia, Harapan Tinggi Penggerak Ekonomi


Dibalik setiap gigitan lezat cokelat batang yang lumer di mulut, tersimpan perjalanan panjang dari kebun kakao terpencil di Nusantara hingga industri cokelat global. Sepotong cokelat tak hanya menjadi camilan nikmat, melainkan juga memiliki potensi besar untuk mendorong perekonomian nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani lokal.

Menurut catatan sejarah, biji kakao pertama kali dibawa oleh bangsa Spanyol ke Minahasa pada tahun 1560. Awalnya, budidaya kakao masih berskala kecil dan terbatas. Perubahan signifikan terjadi pada akhir abad ke-19, ketika Belanda memperkenalkan varietas unggul asal Venezuela di perkebunan Jawa. Inovasi ini melahirkan klon kakao tahan hama bernama Djati Runggo, yang kemudian menyebar ke Jawa dan Sumatera.

Sejak saat itu, kakao berkembang pesat di berbagai daerah. Kini, Sulawesi menjadi penghasil utama kakao nasional, menyumbang sekitar 60,7 persen dari total produksi Indonesia.

Meskipun kakao telah menjadi bagian penting dari pertanian Indonesia, potensi besar yang dimiliki negeri ini dalam menghasilkan biji kakao berkualitas unggul belum sepenuhnya dinikmati oleh bangsa sendiri. Sayangnya, nilai ekonomi tertinggi justru banyak dinikmati oleh pihak lain, sementara petani dan perekonomian nasional belum merasakan manfaat optimal dari pengolahan komoditas ini. Setiap biji kakao sesungguhnya menyimpan peluang untuk memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia, namun hal ini masih perlu diwujudkan secara nyata.