Moringa, Solusi Pencegahan Stunting Pada Anak Moringa, Solusi Pencegahan Stunting Pada Anak

  • RAA
  • Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:35 WIB

Moringa, Solusi Pencegahan Stunting Pada Anak


Stunting masih menjadi salah satu tantangan utama dalam pembangunan Indonesia. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga perkembangan kognitif dan kualitas hidup anak di masa depan.

Pemerintah menekankan pentingnya intervensi gizi sejak dini, khususnya pada seribu hari pertama kehidupan. Namun, di lapangan, keterbatasan akses pangan bergizi dan rendahnya kesadaran masyarakat akan nutrisi seimbang masih menjadi kendala utama.

Menyikapi hal tersebut, Tim Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui program pengabdian masyarakat di Bangunharjo, Sewon, Bantul, menginisiasi pengolahan daun kelor menjadi berbagai makanan bergizi.

Olahan tersebut dinamai Daun Kelor untuk Nutrisi Anti Stunting (Dakonan). Tanaman dengan nama ilmiah Moringa oleifera ini dikenal memiliki kandungan gizi lengkap, seperti protein, vitamin A, vitamin C, kalsium, zat besi, dan antioksidan. Berbagai penelitian bahkan menyebut kelor sebagai superfood yang potensial.

Tim juga mengajarkan masyarakat setempat berbagai olahan berbahan daun kelor, seperti bakpau, rolade, mi, bakso, dan puding. Selain lezat dan mudah dibuat, produk-produk tersebut dikemas agar dapat diterima sebagai bagian dari makanan sehari-hari, termasuk sebagai alternatif makanan pendamping ASI (MP-ASI).

Arif Wahyu Setyo Budi, Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan FKIK UMY, menegaskan bahwa stunting sering dipandang sebagai masalah besar yang hanya dapat diselesaikan melalui program pemerintah.

Padahal, solusi dapat dimulai dari hal-hal kecil di sekitar masyarakat, seperti pemanfaatan daun kelor. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pelatihan memasak, tetapi juga mencakup edukasi tentang pentingnya gizi sejak bayi lahir hingga seribu hari pertama kehidupan, serta bagaimana masyarakat dapat mandiri dalam menyediakan makanan sehat di rumah. Ia menambahkan bahwa tujuan utama program ini adalah agar masyarakat tidak hanya mampu mengolah kelor, tetapi juga memahami pentingnya gizi sehingga tercipta kesadaran dan pengetahuan yang berkelanjutan.