Upaya Gunung Kidul Mengatasi Stunting Upaya Gunung Kidul Mengatasi Stunting

  • RAA
  • Rabu, 06 Agustus 2025 - 23:11 WIB

Upaya Gunung Kidul Mengatasi Stunting


Masalah stunting atau pertumbuhan anak yang terhambat akibat kekurangan gizi berkepanjangan masih menjadi tantangan di Indonesia, termasuk di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.


Data dari Dinas Kesehatan setempat menunjukkan bahwa hingga Agustus 2024, angka stunting di wilayah ini masih berada di angka 14,37 persen.

Melansir tulisan dari Muntadliroh di Kumparan, untuk menekan angka tersebut, berbagai langkah telah diambil oleh pemerintah daerah bersama sejumlah mitra strategis.


Salah satunya adalah kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui dua unit risetnya, yakni Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) serta Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa, dan Konektivitas (PRKSDK).


Mereka merancang program pencegahan stunting dengan memanfaatkan daun kelor sebagai bahan pangan lokal.


Program ini dijalankan di Kalurahan Kelor dan Wiladeg, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, dan mulai diterapkan pada tahun 2024 dengan dukungan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Gunungkidul serta PT BPR Bank Daerah Gunungkidul.

Pemilihan lokasi program didasarkan pada data IDI Gunungkidul yang mencatat bahwa pada November 2022, sekitar 38,5 persen dari 146 balita di dua kelurahan tersebut mengalami stunting. Selain itu, 4,4 persen balita tercatat mengalami penurunan berat badan.


Dalam pelaksanaan program, berbagai informasi penting seputar olahan makanan berbahan daun kelor, kandungan gizinya, cara pengolahan, hingga edukasi kesehatan lainnya disampaikan kepada masyarakat dengan metode pendekatan yang disesuaikan. 

Sasaran utama kegiatan ini adalah para kader Posyandu serta ibu-ibu muda yang memiliki anak balita dengan kondisi stunting.


Karena keduanya memiliki peran dan kebutuhan informasi yang berbeda, pendekatan komunikasi dilakukan secara berlapis agar informasi bisa sampai secara efektif.

Selain penyediaan bahan pangan, aspek komunikasi memegang peranan penting dalam proses intervensi stunting, terutama untuk menjangkau masyarakat pedesaan yang minim akses terhadap edukasi tentang masalah ini.


Salah satu metode komunikasi yang dianggap efektif dalam hal ini adalah pendekatan komunikasi organik. Pendekatan ini menekankan pentingnya membangun komunitas yang terlibat aktif dalam program-program sosial, termasuk pencegahan stunting.

Konsep komunikasi organik ini sebelumnya telah diterapkan dalam menangani berbagai isu kesehatan masyarakat yang sifatnya berulang dan tidak pasti.


Pemerintah maupun pihak swasta yang terlibat dalam intervensi stunting di Gunungkidul bisa memanfaatkan pendekatan ini untuk menyampaikan informasi yang relevan secara lebih tepat sasaran.


Salah satu prinsip utama komunikasi organik adalah mendorong keterlibatan komunitas melalui komunikasi partisipatif. 

Partisipasi ini dapat berbentuk langsung maupun tidak langsung, aktif atau pasif, serta berlangsung di tingkat lokal, regional, bahkan nasional sesuai konteksnya.

Dalam program intervensi yang dijalankan BRIN, keterlibatan kader Posyandu dari Kalurahan Kelor dan Wiladeg dilakukan sejak awal.


Mereka menjadi aktor penting dalam menjembatani komunikasi antara tim peneliti dan masyarakat, khususnya ibu-ibu yang memiliki anak stunting dan ibu hamil. Oleh karena itu, pelibatan mereka dalam komunikasi partisipatif menjadi kunci keberhasilan program.

Pada tahap selanjutnya, para peneliti dari PRTPP dan PRKSDK BRIN juga langsung bertemu dengan para ibu dan anak-anak balita yang rentan mengalami anemia atau telah terdampak stunting. 


Pertemuan ini merupakan bagian dari strategi komunikasi yang bertujuan untuk menjangkau kelompok sasaran akhir secara efektif.


Dalam hal ini, kader Posyandu berperan sebagai pihak perantara yang menjembatani komunikasi antara peneliti dan masyarakat.


Daun kelor dipilih sebagai bahan utama dalam makanan pendukung pencegahan stunting karena ketersediaannya yang melimpah di lingkungan warga dan harganya yang terjangkau.


Dini Ariani, peneliti dari PRTPP BRIN, menjelaskan bahwa kandungan gizi daun kelor sangat tinggi. Kandungan vitamin A-nya 10 kali lebih banyak dari wortel, kalsium 17 kali lebih banyak dibandingkan susu, dan proteinnya 9 kali lebih tinggi dari yoghurt. 


Selain itu, daun kelor juga kaya akan karotenoid, zinc, fosfor, zat besi, dan kalsium, yang semuanya sangat penting untuk pertumbuhan anak.

Dengan perpaduan pendekatan ilmiah, pemanfaatan bahan lokal, dan strategi komunikasi yang melibatkan masyarakat, upaya pencegahan stunting di Gunungkidul diharapkan dapat memberikan hasil yang signifikan dan berkelanjutan.