Industri Kuliner: Penggerak Pariwisata dan Potensi Andaliman di Danau Toba Industri Kuliner: Penggerak Pariwisata dan Potensi Andaliman di Danau Toba

Foto: regalspring

  • RAA
  • Minggu, 03 Agustus 2025 - 15:51 WIB

Industri Kuliner: Penggerak Pariwisata dan Potensi Andaliman di Danau Toba


Sektor kuliner memegang peran vital dalam mendorong pertumbuhan pariwisata. Keberagaman dan keunikan kuliner suatu daerah mampu menjadi magnet bagi wisatawan, termasuk di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba.


Sebagai destinasi strategis, Danau Toba tidak hanya menyuguhkan keindahan alam, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi tujuh kabupaten sekitarnya, seperti Toba, Dairi, Simalungun, Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, dan Karo. Salah satu kekayaan kuliner khas daerah ini adalah andaliman atau "merica Batak"—rempah unik asal Sumatera Utara yang tumbuh di ketinggian 1.100–1.500 mdpl. Andaliman menjadi bumbu utama dalam hidangan tradisional seperti arsik, naniura, dan mie gomak.

Potensi ekspor andaliman mulai menunjukan perkembangan positif, dengan beberapa UMKM berhasil memasarkan produknya ke sejumlah negara, termasuk Swedia, Jerman, dan Prancis—bahkan digunakan sebagai pengganti tembakau di luar negeri. Namun, pengembangan kuliner berbasis andaliman di Danau Toba masih menghadapi beberapa tantangan, seperti belum adanya pusat kuliner tradisional, minimnya variasi olahan masakan khas, dan keterbatasan akses pada sertfikasi halal bagi pelaku usaha.


Agar pemanfaatan andaliman dapat memberikan dampak maksimal bagi pariwisata Danau Toba, diperlukan kolaborasi antara petani, pelaku usaha, supplier, dan konsumen. Beberapa upaya yang dapat dilakukan meliputi peningkatan kapasitas dan pelatihannya, edukasi pengolahan yang berkelanjutan, dan program pendampingan UMKM. Dengan pengelolaan yang tepat, andaliman tidak hanya akan memperkaya kuliner lokal, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara untuk kembali berkunjung ke Danau Toba.