Penggerak Pariwisata dan Potensi Andaliman di Danau Toba
Salah satu yang berperan penting dalam mendongkrak daya tarik pariwisata sebuah daerah adalah keberagaman kuliner. Sektor ini selalu mampu menaikkn daya tarik wisatawan untuk mengunjungi sebuah daerah. Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba juga demikian. Kawasan ini tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan rempah khas seperti andaliman (Zanthoxylum acanthopodium), atau yang dikenal sebagai "merica Batak".
Danau Toba, yang berbatasan dengan tujuh kabupaten—Toba, Dairi, Simalungun, Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, dan Karo—telah mengalami pertumbuhan pariwisata yang signifikan. Andaliman, rempah dengan cita rasa pedas, getir, dan aroma jeruk khas, menjadi salah satu komoditas unggulan. Tumbuh di ketinggian 1.100–1.500 mdpl, rempah ini menjadi bahan dasar hidangan tradisional seperti arsik, naniura, dan mie gomak.
Potensi ekspor andaliman mulai berkembang, dengan beberapa UMKM berhasil memasarkannya ke Swedia, Jerman, dan Prancis—bahkan digunakan sebagai pengganti tembakau di luar negeri. Namun, pengembangan kuliner berbasis andaliman di Danau Toba masih menghadapi tantangan, seperti belum adanya pusat kuliner khusus, terbatasnya variasi olahan, dan kebutuhan sertifikasi halal bagi pelaku usaha.
Untuk memaksimalkan potensi ini, diperlukan sinergi antara petani, pelaku UMKM, supplier, dan pemerintah melalui capacity building, edukasi, pendampingan, dan kolaborasi. Dengan pengolahan yang tepat, andaliman tidak hanya dapat meningkatkan ekonomi lokal tetapi juga menjadi daya tarik wisata kuliner, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
