Ritual-Ritual Pernikahan Masyarakat Jawa Ritual-Ritual Pernikahan Masyarakat Jawa

Foto : surabayastory

  • RAA
  • Sabtu, 27 Februari 2021 - 15:58 WIB

Ritual-Ritual Pernikahan Masyarakat Jawa


Ada beberapa variasi pernikahan di Jawa, tergantung pada adat dan status sosial dari pasangan tersebut.

Variasi populer diantaranya a la Surakarta Jogjakarta, Paes Kesatrian, dan Paes Ageng. Ritual pernikahan akan mencakup Siraman, Midodareni, Peningsetan, Ijab (untuk Muslim) atau sakramen pernikahan (untuk Kristen)

Berikut ini beberapa ritual masyarakat Jawa yang terkenal dimulai dari sebelum pernikahan hingga sudah resmi berkeluarga

Siraman

Kedua mempelai akan dimandikan di rumah masing-masing, oleh keluarga dan teman dekat. Doa juga diberikan untuk kebaikan kedua mempelai


Naloni Mitoni

Diadakan saat kehamilan pertama seorang wanita, saat usia kehamilannya tujuh bulan. Keluarga dan teman dekat diundang. Calon ibu ini dibungkus dengan tujuh lapis kain batik, melambangkan harapan untuk melahirkan dan melahirkan yang baik. Doa dan makanan tradisional juga disajikan.

Selapanan

Diadakan saat anak berusia 35 hari, sebuah ritual merayakan kehidupan baru. Anggota keluarga dan teman dekat akan datang ke acara tersebut.

Rambut dan kuku anak itu dicukur. sembahyang, bacaan agama dan slametan adalah bagian yang umum dari acara tersebut. Setelah acara, kue, manisan, dan telur (melambangkan kehidupan baru) akan dibagikan.


Tedhak Sithen

Diselenggarakan saat anak berusia sekitar delapan bulan. Anggota keluarga diundang, untuk merayakan seorang anak mulai berjalan.

Khitan

Untuk anak laki-laki, khitan, atau sunat, adalah transisi penting menuju kedewasaan. Ritual ini biasanya dilakukan saat anak laki-laki berusia 6 sampai 12 tahun.

Setelah disunat, adalah adat untuk mengorbankan kambing, mengadakan pertunjukan slametan dan wayang kulit.

unat merupakan salah satu faktor yang membedakan antara masyarakat Jawa dengan suku Bali terkait dan masyarakat Tengger yang masih mayoritas beragama Hindu.

Ruwatan Gembel

Hari anak-anak Hindu komunitas Dieng mencukur rambut. Upacara persembahan besar untuk para Dewa di kuil diberikan. Setelah itu masyarakat mengadakan festival. Turis biasanya berkumpul untuk melihat acara tersebut.