Slametan, Acara Komunal Yang Melambangkan Persatuan Sosial Slametan, Acara Komunal Yang Melambangkan Persatuan Sosial

Foto : sulaimanmedia

  • RAA
  • Jumat, 26 Februari 2021 - 19:09 WIB

Slametan, Acara Komunal Yang Melambangkan Persatuan Sosial


Slametan adalah acara komunal dari Jawa, melambangkan persatuan sosial dari mereka yang berpartisipasi di dalamnya. Clifford Geertz ( ahli Antropologi) menganggapnya sebagai ritual inti dalam agama Jawa, khususnya varian abangan.


Pesta ini biasa dilakukan oleh orang-orang Jawa, Sunda, dan Madura yang memiliki hubungan dekat.

Slametan bisa dilaksanakan untuk merayakan hampir semua kejadian, termasuk kelahiran, pernikahan, kematian, pindah ke rumah baru, dan lain sebagainya. Bergantung pada niat, suasana hati dan penekanannya mungkin agak berbeda, tetapi struktur utamanya sama. Geertz mengelompokkannya menjadi empat jenis utama : 

Hal-hal yang berkaitan dengan krisis kehidupan: kelahiran, sunat, pernikahan, dan kematian


Yang terkait dengan acara kalender Islam 

Yang berkaitan "Pembersihan Desa" 


Yang berkaitan pada kejadian yang tidak biasa: berangkat untuk perjalanan jauh, pindah tempat tinggal, mengganti nama pribadi, penyakit, sihir, dan sebagainya.


Slametan umumnya diadakan pada malam hari, setelah shalat magrib selesai. Tanggal ditentukan baik oleh kemunculannya dalam perayaan (untuk kelahiran dan kematian, misalnya), atau pada hari-hari keberuntungan dalam kalender Jawa.


Para tamu, selalu laki-laki, selalu merupakan tetangga dekat, dan pemilihan tamu didasarkan sepenuhnya pada kedekatan, dan bukan apakah mereka teman atau kerabat.


Mereka dipanggil oleh utusan tuan rumah (biasanya anak-anaknya) hanya lima atau sepuluh menit sebelum slametan dimulai, dan mereka harus menghentikan apa pun yang mereka lakukan saat itu.