Pentingnya Inovasi dan Edukasi dalam Meningkatkan Konsumsi Pangan Alternatif
Konsumsi bahan pangan alternatif berpeluang meningkat apabila diolah dengan cara yang mampu meningkatkan cita rasa, menurut dr. Andree Hartanto, Sp.OG, seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari RSIA Dedari Kupang.
Dilansir dari Antara, dalam sebuah diskusi bersama IKKT Pragati Wira Anggini di Jakarta, Andree menyampaikan bahwa selera manusia terhadap rasa merupakan faktor penting dalam menentukan minat terhadap suatu makanan.
Ia mencontohkan pengalamannya di Nusa Tenggara Timur, di mana banyak ibu enggan mengonsumsi biskuit bantuan bergizi atau olahan daun kelor karena dianggap tidak enak.
Sebagai pemilik restoran yang mengolah daun kelor menjadi berbagai sajian lezat, Andree menyebut bahwa tanaman tersebut dapat diolah menjadi menu menarik seperti nasi kelor, biskuit, teh, hingga es krim gelato. Dengan kreativitas, rasa daun kelor bisa lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Tak hanya soal rasa, menurut Andree, edukasi tentang kandungan gizi dan manfaat daun kelor juga harus diperkuat.
Masyarakat perlu diberi pemahaman bahwa tanaman ini bukan hanya untuk keperluan tradisional seperti ritual atau pemakaman, tetapi juga mengandung nutrisi tinggi dan layak dikonsumsi sehari-hari.
Di sisi lain, pemerintah terus mendorong pemanfaatan pangan alternatif sebagai bagian dari upaya diversifikasi makanan.
Langkah ini penting agar masyarakat tidak bergantung hanya pada satu jenis pangan, terutama di tengah ancaman perubahan iklim dan dampak fenomena El Nino.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelumnya menyebut bahwa sorgum dan jagung bisa menjadi pilihan bahan pangan pengganti yang adaptif terhadap iklim panas.
Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha, menekankan bahwa keberhasilan adaptasi ini memerlukan perubahan pola konsumsi yang harus dimulai sejak dini.
