Dorong Peningkatan Daya Saing Mete Indonesia, Pemerintah Dukung Pengembangan UMKM Mete Dorong Peningkatan Daya Saing Mete Indonesia, Pemerintah Dukung Pengembangan UMKM Mete

Foto: pixabay

  • RAA
  • Jumat, 11 Juli 2025 - 19:12 WIB

Dorong Peningkatan Daya Saing Mete Indonesia, Pemerintah Dukung Pengembangan UMKM Mete


Berdasarkan data Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, sektor mete Indonesia didominasi oleh petani kecil. Pada 2018, perkebunan rakyat menyumbang 99,8% dari total produksi nasional yang mencapai 136,4 ribu ton. Meski produktivitas petani lokal masih berkisar 434–800 kg/ha (jauh di bawah Vietnam yang mencapai >1.500 kg/ha), pemerintah aktif mendorong peningkatan daya saing melalui perluasan pasar dan pengembangan industri hilir. Dalam hal ini, UMKM dan strategi branding inovatif memegang peran krusial.

Tantangan dan Solusi Pengembangan UMKM Mete
Meski ada kesuksesan, banyak UMKM masih menghadapi kendala modal, teknologi, dan pemasaran. Penelitian menyebutkan bahwa strategi pemasaran digital (SEO, media sosial) dan pelatihan berkelanjutan sangat penting untuk meningkatkan daya saing global.

Strategi Branding dan Peningkatan Kualitas
UMKM mete Indonesia mulai mengembangkan branding berbasis kekhasan lokal. Beberapa brand menggunakan indikasi geografis seperti "mete Flores" untuk menarik pasar global.

Kementan telah merilis varietas unggul seperti GG-1 dan MR-851 untuk meningkatkan kualitas produksi. Strategi pemasaran terintegrasi melalui e-commerce dan event, serta sertifikasi halal dan organik, menjadi kunci penetrasi pasar.

Peluang Pasar Global yang Menjanjikan
Permintaan global mete terus meningkat seiring tren hidup sehat. Pasar camilan mete dunia diproyeksikan mencapai USD 3,085 juta pada 2023 dengan pertumbuhan 4,2% per tahun. Mete sebagai superfood banyak digunakan dalam produk plant-based seperti susu dan butter mete.

E-commerce membuka peluang ekspor langsung bagi UMKM. Dukungan pemerintah melalui LPEI dan sertifikasi mutu diperlukan untuk masuk segmen pasar premium yang mensyaratkan standar keberlanjutan dan perdagangan adil. Potensi peningkatan nilai tambah melalui pengolahan lokal masih sangat besar mengingat sebagian besar ekspor masih dalam bentuk gelondongan.