Mengenal Fakta Unik Tentang Jambu Mete dan Perkembangannya di Indonesia Mengenal Fakta Unik Tentang Jambu Mete dan Perkembangannya di Indonesia

Foto: pixabay

  • RAA
  • Kamis, 10 Juli 2025 - 19:55 WIB

Mengenal Fakta Unik Tentang Jambu Mete dan Perkembangannya di Indonesia


Di Indonesia, jambu mete lebih populer disebut sebagai jambu monyet. Sebutan ini muncul karena bijinya yang tampak seperti ekor monyet yang sedang bergelantungan. Namun, penamaan tersebut tidak memiliki dasar ilmiah dan lebih bersifat tradisional.

Bagian yang kerap disebut sebagai biji itu sebenarnya adalah kacang mete, yang sering dijadikan cemilan.

Sementara bagian buahnya memiliki daging yang mirip jambu air, meskipun secara ilmiah berbeda. Lalu, bagaimana klasifikasi tanaman ini sebenarnya? Dilansir dari Kumparan, berikut ini informasinya.

Jambu Mete Tidak Termasuk Jenis Jambu
Meskipun memiliki nama "jambu", tanaman ini ternyata bukan berasal dari keluarga jambu-jambuan.

Berdasarkan informasi dari Digitani IPB dan Catalog of Life, jambu mete memiliki nama ilmiah "Anacardium occidentale" yang tergolong dalam keluarga Anacardiaceae.

Ini berarti jambu mete lebih dekat hubungannya dengan pohon mangga daripada jambu air atau jambu biji yang berasal dari famili Myrtaceae. 

Tampilan fisiknya yang mirip dengan jambu air seringkali membuat orang keliru dalam mengelompokkannya.

Keunikan lain dari jambu mete terletak pada bentuk buahnya. Bagian yang sering dianggap sebagai kacang justru merupakan buah sejati, sedangkan bagian yang berwarna merah dan berdaging itu disebut buah semu.

Keduanya bisa dimanfaatkan. Buah sejati biasanya dikonsumsi dalam bentuk kacang-kacangan, sedangkan buah semu digunakan untuk membuat olahan seperti jus, jelly, selai, bahkan minuman fermentasi seperti Cashew Feni dari India.

Cita rasanya yang manis sepat berasal dari kandungan tanin dan membuat buah ini mudah membusuk jika tidak segera diolah.

Sejarah dan Perkembangan Jambu Mete di Indonesia
Meskipun tanaman ini sudah lama dibudidayakan di Indonesia, sebenarnya jambu mete berasal dari Brazil. Menurut Horti Indonesia, tanaman ini menyebar ke berbagai negara tropis melalui pedagang Portugis yang membawanya ke Mozambik dan India pada abad ke-16.

Dari sana, jambu mete menyebar ke banyak negara tropis dan subtropis seperti Bahama, Kenya, Sri Lanka, Thailand, Filipina, hingga akhirnya sampai ke Indonesia.

Di Indonesia, tanaman ini mulai dibudidayakan secara luas pada tahun 1970. Fokus utamanya adalah pada daerah-daerah kering yang mengalami kerusakan lahan.

Tujuannya adalah untuk memperbaiki kondisi tanah dan mengurangi resiko erosi, sekaligus menjadi komoditas perkebunan unggulan di wilayah-wilayah marginal.

Menurut data dari Satu Data Pertanian, luas perkebunan jambu mete milik rakyat mengalami kenaikan pesat sejak tahun 1980 dan mencapai puncaknya pada 2012 dengan luas sekitar 574.000 hektar. Namun setelah itu, terjadi penurunan signifikan akibat peralihan tanaman oleh petani dan alih fungsi lahan.

Sebagai upaya pemulihan, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian melakukan program perluasan area tanam pada tahun 2022 di sejumlah wilayah. Diharapkan langkah ini bisa meningkatkan produksi dan mengoptimalkan potensi jambu mete sebagai komoditas unggulan nasional.