Foto : liputan6
Kisah Sekaten, Upacara Adat Jawa Untuk Memperingati Maulid Nabi
Sekaten adalah upacara adat Jawa selama seminggu, dimana diadakan festival, pekan raya dan pasar malam untuk memperingati Maulid (hari lahir Nabi Muhammad), yang dirayakan setiap tahun mulai hari ke-5 sampai dengan hari ke-12 ( Kalender Jawa) Bulan Mulud (sesuai dengan Rabi 'al-awwal dalam Kalender Islam).
Kemeriahan biasanya berlangsung di alun-alun utara Yogyakarta, dan serentak juga dirayakan di alun-alun utara Surakarta.
Upacara ini awalnya diprakarsai oleh Sultan Hamengkubuwono I, pendiri Kesultanan Yogyakarta untuk mempromosikan keyakinan Islam.
Pada hari pertama, upacara dimulai setelah shalat Isya dengan prosesi pengawal kerajaan dan pejabat istana 'abdi dalem' yang mengiringi dua set alat musik gamelan tradisional berusia ratusan tahun, Kyai Nogo Wilogo dan Kyai Guntur Madu.
Prosesi kerajaan yang dipimpin oleh Sultan dan Gubernur Yogyakarta atau wakilnya dimulai di Pendopo Ponconiti, aula utama Kraton Yogyakarta dan dilanjutkan menuju Masjid Agung Yogyakarta di sebelah utara Alun-Alun.
Gamelan Kyai Nogo Wilogo ditempatkan di pendopo utara Masjidil Haram, sedangkan Gamelan Kyai Guntur Madu ditempatkan di pendopo Pagongan di sisi selatan masjid.
Kedua gamelan sakral ini akan dimainkan secara serentak setiap hari hingga tanggal 11 bulan Maulud hingga tujuh hari berturut-turut. Pada hari terakhir kedua gamelan tersebut akan dikembalikan ke Kraton.
Gamelan Sekaten Surakarta dimainkan dengan cara yang sama seperti gamelan Yogyakarta, dan dibawa ke masjid dan dikembalikan ke istana dalam prosesi kerajaan yang dipimpin oleh Sunan Surakarta dan Walikota dan Dewan Kota Surakarta.
Dua hari sebelum Grebeg Muludan, upacara Tumplak Wajik dilaksanakan di lapangan Keraton Magangan pada pukul 16.00 sore.
Upacara ini diawali dengan upacara kotekan yang meliputi menyanyikan lagu-lagu daerah yang diiringi irama pemukulan kentongan (bambu atau kendang kayu) dan lumpang (lesung padi dan alu), yang menandai pembuatan Gunungan yang akan dibawakan dalam festival Grebeg Mulud.
Kue tradisional Jawa yang disebut wajik yaitu ketan berbentuk berlian dalam gula aren, merupakan bagian penting dari upacara ini, dan termasuk dalam sesajen gunungan.
Lagu yang dimainkan dalam upacara Tumplak Wajik ini biasanya merupakan lagu tradisional Jawa yang populer, seperti Lompong Keli, Tundhung Setan, Owal awil.
Di Yogyakarta, acara utama Sekaten disebut Grebeg Muludan yang dilaksanakan pada hari ke-12 (tepatnya pada hari kelahiran Nabi Muhammad) mulai pukul 08.00.
Gunungan utama, yaitu model gunung yang terbuat dari ketan, manisan, aneka makanan, kerupuk, buah-buahan dan sayur-sayuran, dijaga oleh 10 unit bregodo (brigade) pengawal istana bersama dengan Batalyon Pengawal Kerajaan dari Kadipaten Pakualaman.
