Banyuwangi Panen Cokelat Berkualitas Tinggi Banyuwangi Panen Cokelat Berkualitas Tinggi

Foto: pixabay

  • RAA
  • Minggu, 06 Juli 2025 - 22:12 WIB

Banyuwangi Panen Cokelat Berkualitas Tinggi


Banyuwangi dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil kakao berkualitas tinggi yang telah menembus pasar ekspor internasional. Produk kakao dari daerah ini bahkan telah dipamerkan dalam ajang Festival Cokelat Banyuwangi.

Dilansir dari Antara pada Senin (23 Juni), kakao dari Banyuwangi telah diekspor ke berbagai negara seperti Jepang, Ghana, Swiss, dan Belanda. 

Winarto selaku Kepala Regional PTPN I Regional 5 mengungkapkan bahwa kakao yang diekspor terdiri dari jenis bulk dan edel.

Jenis edel disebut sebagai kakao unggulan karena kualitasnya yang sangat baik dan harga jualnya yang tinggi di pasar dunia.

Perkebunan Kendenglembu menjadi salah satu lokasi utama budidaya kakao di daerah ini. Dari tempat inilah dihasilkan dua jenis kakao yaitu kakao lindak atau bulk, serta kakao edel yang dikenal sebagai kakao mulia.

Winarto juga menyampaikan bahwa kakao edel merupakan jenis langka yang hanya bisa ditemukan di Banyuwangi.

Saat ini, luas lahan kakao yang dikelola oleh PTPN I Regional 5 mencapai 220 hektare, terdiri dari 94 hektare untuk kakao edel dan 126 hektare untuk kakao bulk.

PTPN berencana memperluas areal tanamnya sebanyak 80 hektare di tahun mendatang sehingga total luas perkebunan akan menjadi sekitar 300 hektare.

Festival Cokelat Banyuwangi yang dilangsungkan di Waduk Sidodadi, Kecamatan Glenmore pada Sabtu dan Minggu (21–22 Juni), bertujuan untuk memperkenalkan potensi besar kakao lokal kepada masyarakat luas.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menuturkan bahwa festival ini menjadi sarana promosi cokelat Banyuwangi yang telah diakui secara global.

Beragam kegiatan turut meramaikan acara tersebut, mulai dari pertunjukan seni gandrung, jalan sehat, lomba mewarnai dan fesyen anak, hingga edukasi seputar kakao untuk para pelajar. 

Tak hanya itu, ada juga perlombaan kuliner berbahan dasar cokelat serta kompetisi kopi dan gula, mengingat Glenmore juga merupakan sentra dua komoditas tersebut.

Dari sisi perdagangan, ekspor kakao Indonesia dengan kode HS 1801—baik dalam bentuk biji utuh maupun pecah, mentah atau sangrai—dikirim ke negara-negara seperti Malaysia, Jepang, Singapura, Amerika Serikat, dan lainnya.

Volume ekspor kakao sempat mengalami fluktuasi. Pada tahun 2021, ekspor mencapai 22.280 ton dengan nilai sekitar USD 56 juta. Di tahun 2022 jumlahnya meningkat menjadi 24.501 ton dengan nilai USD 63 juta.

Tetapi pada tahun 2023 volume ekspor turun menjadi 14.451 ton dengan nilai USD 46 juta. Penurunan berlanjut di tahun 2024 menjadi 13.182 ton, meskipun nilai FOB meningkat menjadi USD 80 juta. Hingga April 2025, volume ekspor telah mencapai 2.953 ton dengan nilai lebih dari USD 27 juta.

Banyuwangi terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan sektor kakao, baik dari sisi produksi maupun promosi, agar bisa terus bersaing di pasar global.