Foto: pixabay
Dokter Kakao Jadi Solusi Penurunan Produksi Kakao Indonesia
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengungkapkan tantangan utama industri agro, khususnya kakao, terletak pada sektor hulu. Ketersediaan bahan baku yang terbatas akibat alih fungsi lahan dan perubahan iklim berbanding terbalik dengan tingginya permintaan ekspor produk turunan kakao. "Industri terpaksa mengimpor bahan baku untuk memenuhi kebutuhan produk makanan dan minuman," jelas Faisol di Jakarta (3/7).
Data menunjukkan penurunan signifikan volume ekspor kakao Indonesia. Ekspor ke Inggris anjlok dari 20 ribu ton (2019) menjadi 10 ribu ton (2023), sementara ke AS turun dari 60 ribu ton menjadi 50 ribu ton dalam periode yang sama. "Kenaikan harga kakao global justru berpotensi memperparah kelangkaan bahan baku lokal," tambahnya.
Untuk mengatasi hal ini, Kemenperin berkolaborasi dengan perguruan tinggi dan meluncurkan program inovatif 'Dokter Kakao'. Dirjen Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika melaporkan keberhasilan program ini: "Impor bahan baku kakao telah berkurang dari 200 ribu ton per tahun, dan kini telah lahir 50 usaha cokelat artisan bean-to-bar."
Program Dokter Kakao yang melatih 37 petani inti pada 2024 telah menghasilkan 3.700 petani terlatih. Mereka membudidayakan kakao dengan sistem grading untuk produk premium. Ketua ASKINDO Arief Susanto menegaskan, "Pelatihan ini membawa dampak riil dengan meningkatnya produktivitas petani mitra."
Pemerintah berkomitmen memperkuat hilirisasi kakao sesuai arahan Presiden. "Targetnya jelas: swasembada bahan baku dan nilai tambah melalui pengolahan dalam negeri," pungkas Faisol menegaskan.
