Potensi Gula Aren Dorong Kesadaran Petani dan Tren Konsumsi Sehat Potensi Gula Aren Dorong Kesadaran Petani dan Tren Konsumsi Sehat

Foto: republika

  • RAA
  • Minggu, 29 Juni 2025 - 22:56 WIB

Potensi Gula Aren Dorong Kesadaran Petani dan Tren Konsumsi Sehat


Belakangan ini, penggunaan gula aren semakin populer di berbagai tempat, termasuk di hotel dan kafe.

Peningkatan konsumsi gula aren ini sejalan dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. 

Melansir Kumparan, di Kota Medan, misalnya, Mabes Kafe yang berlokasi di Jalan Setia Budi, menyediakan pilihan antara gula pasir dan gula aren untuk para pelanggannya.

Menurut Agung Arifin, pemilik Mabes Kafe, gula aren lebih dianjurkan dibandingkan gula pasir karena lebih ramah bagi kesehatan. Ia juga menambahkan bahwa rasa kopi menjadi lebih nikmat ketika dicampur dengan gula aren.

Kepala Dinas Perkebunan Sumatera Utara, Herawaty, menyebutkan bahwa tanaman aren termasuk dalam enam komoditas unggulan provinsi ini, bersama dengan tembakau, kopi, kakao, karet, dan kelapa sawit. 

Menurutnya, meningkatnya penggunaan gula aren turut mendorong petani untuk melihat nilai ekonomi yang lebih besar dari tanaman ini.

Para petani kini mulai menyadari bahwa dengan pengelolaan yang tepat, pohon aren bisa menjadi sumber pendapatan yang menguntungkan.


Tidak hanya menghasilkan gula cetak seperti yang umum dijumpai di pasar, petani juga mulai memproduksi gula semut, yaitu gula aren dalam bentuk kristal. Produk ini memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan daya simpan yang lebih lama.

Sejak beberapa tahun terakhir, Dinas Perkebunan Sumatera Utara telah menjalankan program pengembangan Unit Pengolahan Hasil (UPH). 


Melalui program ini, petani mendapatkan bantuan mesin untuk memproduksi gula semut dan pelatihan teknis seputar pemanfaatan pohon aren, mulai dari potensi tanaman, cara pengolahan nira, hingga standar kualitas produk.

Selain pelatihan dan mesin, pemerintah daerah juga memberikan bantuan bibit aren kepada sejumlah kabupaten seperti Labuhan Batu Utara, Batu Bara, Asahan, dan Mandailing Natal.

Total bibit yang telah disalurkan mencapai sekitar 48.000 batang, dengan tujuan meningkatkan produktivitas dan regenerasi pohon aren di daerah tersebut.


Berdasarkan data Statistik Perkebunan tahun 2017 dari Dinas Perkebunan Sumatera Utara, luas areal perkebunan aren di wilayah ini mencapai 6.472,53 hektare, dengan total produksi sekitar 5.268,52 ton. Tanaman aren tersebar di 19 kabupaten, dengan 17.100,24 hektare berada dalam kategori tanaman belum menghasilkan (TBM), 3.916,89 hektare tanaman menghasilkan (TM), dan 845,4 hektare tanaman tua menghasilkan (TTM).

Salah satu desa yang dikenal sebagai pusat produksi gula aren dan gula semut berkualitas tinggi adalah Desa Buluh Awar di Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang.


Dari sekitar 120 kepala keluarga yang tinggal di sana, sekitar separuhnya menggantungkan hidup dari pohon nira yang diolah menjadi produk gula tradisional tersebut.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat gula aren, serta dukungan dari pemerintah untuk pengembangan industri lokal, masa depan petani aren di Sumatera Utara tampak semakin menjanjikan.