Festival Kopi Angkat Potensi Kopi Lokal Sigi ke Kancah Nasional dan Internasional Festival Kopi Angkat Potensi Kopi Lokal Sigi ke Kancah Nasional dan Internasional

Foto: pixabay

  • RAA
  • Rabu, 25 Juni 2025 - 16:51 WIB

Festival Kopi Angkat Potensi Kopi Lokal Sigi ke Kancah Nasional dan Internasional


Pemerintah Kabupaten Sigi di Sulawesi Tengah tengah berupaya meningkatkan kesejahteraan petani kopi melalui promosi kopi lokal ke tingkat nasional dan bahkan internasional.

Dilansir dari Antara, Bupati Sigi, Mohamad Irwan Lapatta, menyampaikan bahwa salah satu strategi untuk mengangkat citra kopi daerah adalah lewat penyelenggaraan Festival Kopi.

Acara ini diharapkan mampu membangkitkan kembali semangat para petani kopi, terutama yang berada di wilayah Marawola Barat.

Menurutnya, festival ini juga menjadi ajang untuk memperkenalkan kopi khas Sigi kepada para pegiat kopi dari berbagai wilayah di Indonesia, seperti Jawa dan Sumatera. Dengan begitu, kopi dari Sigi bisa mendapat perhatian lebih luas hingga ke pasar luar negeri.


Pemkab Sigi saat ini tengah menyusun nota kesepahaman (MoU) guna membuka jalur distribusi kopi lokal.


Produk yang akan dipasarkan mencakup kopi Arabika dari Marawola Barat serta kopi Robusta yang berasal dari Kulawi Raya dan Palolo. 


Harapannya, kerja sama ini bisa memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi para petani kopi di wilayah tersebut.


Festival kopi juga disebut sebagai langkah penting dalam mendorong semangat petani dan memperkuat posisi kopi Sigi di pasar yang lebih luas.


Ragam varian seperti Arabika dan Robusta dari daerah Lindu, Kulawi, Palolo, serta Dombu Marawola Barat turut diperkenalkan dalam acara ini.


Tidak hanya menjadi ajang promosi, festival ini juga difungsikan sebagai sarana pembelajaran, komunikasi, dan edukasi. Irwan menegaskan bahwa kegiatan ini diharapkan bisa memberikan manfaat lebih luas, baik dari sisi ekonomi maupun budaya daerah.


Sejak tahun 2017, pemerintah daerah telah menjalankan program pengembangan kopi di sejumlah kecamatan.


Di Marawola Barat, misalnya, camat didorong berkoordinasi dengan kepala desa agar setiap desa menanam 5.000 pohon kopi melalui dana desa. Pada akhirnya program ini terhenti akibat bencana alam yang terjadi pada tahun 2018.


Upaya penanaman juga sempat dilakukan di Pipikoro, dengan target setiap desa memiliki lima hektare lahan untuk kopi dan kakao, yang totalnya mencapai 10 ribu pohon. Sayangnya, inisiatif ini juga sempat terhenti.

Untuk tahun 2025, Pemkab Sigi telah menyusun rencana pengembangan yang mencakup penanaman 50 ribu pohon durian musang king, 10 ribu pohon alpukat, serta tanaman kopi dan kakao.

Namun penerapan program ini masih harus disesuaikan dengan regulasi terbaru dari Kementerian Keuangan, yang mewajibkan kesesuaian antara penggunaan anggaran dan jenis program.

Irwan menyatakan keinginannya agar kopi Sigi bisa semakin dikenal luas dan memiliki ciri khas tersendiri di mata masyarakat.


Ia berharap festival ini akan memberikan dampak jangka panjang, tidak hanya dari sisi ekonomi tetapi juga sebagai sarana memperkenalkan budaya daerah kepada dunia.