Siswi Surabaya Raih Juara Internasional Berkat Penelitian Baju Antibakteri dari Daun Kelor Siswi Surabaya Raih Juara Internasional Berkat Penelitian Baju Antibakteri dari Daun Kelor

  • RAA
  • Rabu, 25 Juni 2025 - 12:41 WIB

Siswi Surabaya Raih Juara Internasional Berkat Penelitian Baju Antibakteri dari Daun Kelor


Seorang pelajar dari SMAN 5 Surabaya bernama Nathania berhasil mengukir prestasi membanggakan di tingkat dunia.


Melansir Basra, Ia meraih peringkat pertama dalam kategori Ilmu Kedokteran dan Kesehatan pada ajang Taiwan International Science Fair (TISF) 2023 melalui penelitiannya yang berjudul "Moringa Extract (Moringa Oleifera) based Silver Nanoparticle Sisal Fabric as Antibacterial Against Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus".


Sebelum melangkah ke kompetisi internasional ini, Nathania terlebih dahulu mengikuti ajang National Science Fair for Indonesian Adolescents (NASFIA) 2022.


Dalam perlombaan tersebut, ia mempresentasikan hasil risetnya mengenai pemanfaatan ekstrak daun kelor yang dikombinasikan dengan nanopartikel perak untuk melawan bakteri MRSA dan berhasil meraih medali perak.


Dalam wawancaranya dengan Basra, Nathania menyampaikan bahwa setelah meraih penghargaan di tingkat nasional, ia mendapat kesempatan untuk mewakili Indonesia ke ajang internasional.


Meski pilihan lomba cukup banyak, ia tertarik mengikuti TISF karena belum pernah ada perwakilan Indonesia yang meraih juara di sana. Tantangan inilah yang membuatnya termotivasi untuk berpartisipasi.


Dalam riset lanjutan yang dibawanya ke Taiwan, Nathania mengembangkan pakaian khusus dengan kemampuan antibakteri yang ditujukan untuk melawan bakteri MRSA.


Ia menjelaskan bahwa MRSA merupakan jenis bakteri berbahaya yang kebal terhadap antibiotik dan berpotensi menyebabkan wabah senyap yang mematikan.


Terinspirasi dari profesi sang ayah yang seorang dokter saraf, Nathania mengetahui bahwa banyak pasien di ruang ICU terinfeksi MRSA dan kesulitan mendapatkan pengobatan karena biayanya yang sangat tinggi.


Melihat besarnya permasalahan ini, Nathania mencoba menawarkan solusi sederhana dan mudah dijangkau. 

Ia menggabungkan kearifan lokal berupa daun kelor yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri, dengan teknologi modern yaitu nanopartikel perak. 


Menurutnya, meskipun nanopartikel ini sudah dikenal memiliki efek antimikroba, namun belum banyak dimanfaatkan secara luas, khususnya di Indonesia.

Dalam eksperimen yang dilakukannya, Nathania membuktikan bahwa kombinasi antara daun kelor dan nanopartikel perak mampu menghambat dan bahkan membunuh bakteri MRSA secara efektif.


Ia hanya memiliki waktu kurang dari satu bulan untuk mempersiapkan semua kebutuhan lomba, termasuk riset, video presentasi, dan penulisan makalah ilmiah. 


Untuk melakukan penelitian, Nathania harus bolak-balik antara Surabaya dan Malang karena fasilitas mikroskop yang dibutuhkan hanya tersedia di Universitas Negeri Malang.


Meski sempat merasa ragu karena waktu yang terbatas dan tantangan teknis lainnya, keinginan besarnya untuk menjadi dokter menjadi motivasi kuat untuk terus melangkah.


Di Taiwan, ia turut mempresentasikan hasil risetnya melalui poster dan diskusi langsung bersama juri serta peserta lain layaknya sebuah workshop.


Nathania merasa bangga dapat membawa nama Indonesia ke panggung dunia dan berharap semakin banyak generasi muda tanah air yang berani tampil di kancah internasional.


Ia menegaskan bahwa jika seseorang memiliki minat yang kuat terhadap suatu hal, selama itu positif, tidak ada alasan untuk takut mencoba. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat global.