Foto: pixabay
Lampung Dorong Hilirisasi Kopi dan Kakao untuk Perkuat Ekspor dan Diplomasi Global
Pemerintah Provinsi Lampung menyatakan komitmennya dalam mendorong pengolahan lanjutan atau hilirisasi komoditas kopi dan kakao guna memperkuat daya saing daerah di pasar ekspor internasional.
Dilansir dari Kumparan, pernyataan tersebut disampaikan dalam acara silaturahmi bersama Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa dari Kementerian Luar Negeri RI, yang diselenggarakan di Bandar Lampung pada Sabtu malam, 14 Juni.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pelatihan Komoditas Berkelanjutan untuk Negara Sehaluan 2025, dengan peserta dari 16 negara mitra.
Mewakili Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Pj Sekretaris Daerah M. Firsada mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan Kemlu RI serta partisipasi para perwakilan negara sahabat.
Ia berharap pertemuan tersebut memberikan dampak positif tidak hanya bagi perkembangan sektor kopi dan kakao, namun juga mempererat hubungan antarnegara.
Dalam sambutannya, Firsada menggarisbawahi bahwa kopi robusta dan kakao merupakan dua produk unggulan Lampung yang selama ini menjadi kontributor utama dalam ekspor daerah.
Kopi robusta dari Lampung dikenal memiliki aroma dan cita rasa yang khas, sementara kakao daerah ini dikenal memiliki kualitas fermentasi yang sangat baik, menjadikannya incaran pasar industri cokelat dunia.
Menurutnya, keberhasilan ini merupakan hasil dari kerja keras para petani, dukungan pemerintah, dan semangat kolaborasi yang terus dijaga.
Ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus mendorong hilirisasi komoditas, memperkuat hubungan antara petani dan pelaku industri, serta memperluas akses pasar internasional.
Selain itu, peningkatan kapasitas petani juga menjadi fokus, melalui pelatihan, penerapan teknologi, dan akses pendanaan yang lebih inklusif.
Sementara itu, Direktur Kerja Sama Intra Kawasan Amerika dan Eropa dari Kementerian Luar Negeri, Nidya Kartikasari, menyatakan bahwa Lampung dipilih sebagai lokasi praktik lapangan karena memiliki potensi besar di sektor kopi dan kakao, serta pengalaman dalam membangun rantai pasok yang berkelanjutan.
Kegiatan praktik lapangan sendiri berlangsung sejak 27 Mei hingga 13 Juni 2025 di Kabupaten Tanggamus dan Lampung Timur, dan melibatkan langsung para petani serta komunitas lokal.
Pelatihan tersebut mengadopsi pendekatan Training Network Initiative for Business Alignment (TNI-BA) dan dilakukan di dua lokasi utama, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Provinsi Lampung sebagai lokasi praktik lapangan.
Damayanti Buchori, Kepala Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) dari IPB University, menilai kegiatan ini sangat penting dalam menciptakan kolaborasi global menuju sistem pangan yang berkelanjutan.
Ia juga menambahkan bahwa kehadiran peserta dari 16 negara merupakan momen strategis bagi Indonesia dalam menunjukkan kontribusinya terhadap upaya internasional di sektor pangan.
