Potensi Gula Aren sebagai Sumber Penghidupan di Pakuniran
Tanaman aren (Arenga pinnata) tumbuh secara alami di Kecamatan Pakuniran, khususnya di wilayah tenggara. Meskipun tidak dibudidayakan secara khusus, pohon ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
Dilansir dari Kumparan, terdapat delapan desa yang menjadi pusat penyebaran pohon aren, yakni Pakuniran, Gunggungan Kidul, Kedung Sumur, Ranon, Kertonegoro, Gondosuli, Kalidandan, dan Blimbing.
Warga memanfaatkan berbagai bagian dari pohon ini, mulai dari ijuk untuk bahan sapu, buahnya untuk dibuat kolang-kaling, hingga niranya yang diolah menjadi gula aren.
Di Desa Gunggungan Kidul, produksi gula aren telah berlangsung secara turun-temurun melalui kegiatan industri rumahan.
Sekitar 130 penduduk terlibat dalam kegiatan ini. Luas tanaman aren di desa tersebut mencapai 450 hektare dengan jumlah rata-rata 35 hingga 50 pohon per hektare. Satu pohon yang produktif mampu menghasilkan nira sebanyak 10 hingga 15 liter per hari.
Dalam prosesnya, para pengrajin menyadap 20 hingga 25 pohon aren setiap hari pada pagi dan sore hari.
Dari hasil penyadapan tersebut, diperoleh sekitar 25 kilogram gula, yang artinya setiap pohon menghasilkan kira-kira satu kilogram gula aren.
Namun demikian, hasil produksi juga sangat tergantung pada kondisi musim, seperti yang disampaikan oleh S. Chatam, salah satu pengrajin gula aren dari Gunggungan Kidul.
Melimpahnya bahan baku serta ketersediaan kayu bakar dari alam sekitar membuat usaha ini memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan. Setiap bulan, seorang pengrajin bisa menghasilkan sedikitnya 150 bungkus gula aren, yang masing-masing berisi 10 potong dan dijual seharga Rp10.000 per bungkus.
Sehingga penghasilan bersih mencapai Rp1.500.000 per bulan, bahkan bisa lebih tinggi saat bulan Ramadhan atau musim-musim tertentu.
Biaya produksi tidak terlalu memberatkan karena tenaga kerja berasal dari anggota keluarga dan kayu bakar diperoleh dari hutan sekitar rumah.
Masalah utama yang masih dihadapi para pengrajin adalah lemahnya sistem pemasaran. Penjualan produk gula aren umumnya masih bergantung pada kios atau pedagang lokal, sedangkan akses ke pasar tradisional dan lebih luas masih terbatas.
Sebagai langkah awal untuk mengatasi persoalan tersebut, dibentuklah kelompok usaha bernama Pancor Emas yang bertujuan memperkuat kelembagaan dan memperluas pengembangan produk olahan gula aren.
Melalui kelompok ini, para pengrajin mendapatkan bimbingan dan pelatihan dari dinas terkait, salah satunya dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Probolinggo.
Program pelatihan mencakup pembuatan gula aren kristal serta bantuan berupa mesin pengolah untuk mendukung proses produksi.
Penggunaan teknologi dalam pengolahan gula aren menjadi bentuk kristal diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan daya saing produk.
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mengurangi kemiskinan melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
