Kurangi Ketergantungan Impor Gandum, Pemerintah Aktif Promosikan Sorgum Kurangi Ketergantungan Impor Gandum, Pemerintah Aktif Promosikan Sorgum

  • RAA
  • Selasa, 10 Juni 2025 - 19:14 WIB

Kurangi Ketergantungan Impor Gandum, Pemerintah Aktif Promosikan Sorgum


Sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor gandum, Pemerintah Pusat aktif mempromosikan diversifikasi pangan dengan mengembangkan budidaya sorgum sebagai sumber karbohidrat alternatif yang potensial di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam acara Ngabuburit Ngaji Budaya bertajuk "Budaya Pangan Nusantara" di Joglo Nusantara, Depok (15/3/25). Selaku Ketua Umum HKTI, beliau menegaskan pentingnya pangan lokal dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus melestarikan warisan budaya Indonesia.

"Pangan lokal merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya kita. Dalam UU No. 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, pangan lokal termasuk objek yang harus dilestarikan. Sejarah menunjukkan nenek moyang kita tidak hanya bergantung pada beras, tapi juga sorgum, sagu, dan beragam sumber karbohidrat lokal," tegas Fadli Zon.
Fadli Zon memaparkan bahwa Indonesia masih bergantung pada impor gandum sebanyak 12 juta ton setiap tahunnya, yang sebagian besar digunakan sebagai bahan baku mi instan dan roti.

"Volume impor sebesar ini sangat membebani devisa negara," tegasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah aktif mendorong pemanfaatan sorgum sebagai alternatif pengganti gandum. "Sorgum memiliki kandungan gizi tinggi dan sangat potensial untuk diolah menjadi tepung pengganti terigu. Bahkan, kami bisa mengembangkan produk seperti mi instan berbahan dasar sorgum dalam negeri," jelasnya.

Keunggulan lain sorgum terletak pada sistem budidayanya yang lebih efisien. Tanaman ini memiliki kemampuan untuk tumbuh kembali setelah panen (ratoon), sehingga lebih menguntungkan secara ekonomis dibandingkan tanaman padi yang membutuhkan penanaman ulang.

Menurut Fadli Zon, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 12 juta ton gandum setiap tahunnya, dengan sebagian besar digunakan sebagai bahan baku industri makanan seperti mi instan dan berbagai produk roti.

"Tingginya volume impor ini tentu berdampak signifikan terhadap pengeluaran devisa negara," ungkapnya.

Menyikapi hal tersebut, pemerintah berupaya mempromosikan sorgum sebagai solusi alternatif pengganti gandum. "Sorgum tidak hanya bergizi tinggi, tetapi juga berpotensi besar sebagai bahan pengganti tepung terigu. Kami bahkan berpeluang mengembangkan produk turunannya seperti mi instan berbahan dasar sorgum secara lokal," paparnya.

Lebih lanjut, Fadli Zon menekankan keunggulan budidaya sorgum yang lebih ekonomis karena sifat tanaman ini yang dapat tumbuh kembali setelah masa panen (sistem ratoon), sehingga lebih efisien dibandingkan budidaya padi yang memerlukan proses tanam ulang.