Foto: pixabay
Mendorong Pemanfaatan Pangan Lokal untuk Kurangi Ketergantungan Impor
Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat dari Kemendikbudristek, Sjamsul Hadi, menekankan pentingnya meningkatkan konsumsi pangan lokal agar masyarakat tidak terus bergantung pada beras dan tepung sebagai sumber utama karbohidrat.
Melansir Antara,Ia menyampaikan bahwa masyarakat di wilayah timur Indonesia sebenarnya dapat kembali mengonsumsi pangan tradisional seperti sagu dan sorgum, sebagaimana dilakukan oleh leluhur mereka.
Begitu pula masyarakat Jawa memiliki alternatif karbohidrat seperti jagung, singkong, dan berbagai jenis umbi-umbian yang juga bisa dimanfaatkan.
Sjamsul menjelaskan bahwa pergeseran pola makan yang terpusat pada beras dan terigu berdampak negatif terhadap ketahanan pangan nasional.
Salah satu dampaknya adalah meningkatnya ketergantungan pada bahan pangan impor. Bahkan, di daerah-daerah terpencil, harga beras bisa jauh lebih mahal dibandingkan dengan wilayah Jawa.
Berdasarkan data dari Badan Pangan Nasional tahun 2023, harga eceran beras premium di Pulau Jawa berkisar Rp15 ribu per kilogram, sementara di daerah seperti Nusa Tenggara Timur, Wakatobi, dan Mentawai bisa mencapai Rp17 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram.
Menurutnya, sistem pangan Indonesia seharusnya dibangun dengan mengedepankan keragaman hayati dan budaya pangan lokal yang kaya dan unik di setiap daerah.
Ia juga mengkritisi pola pikir masyarakat yang cenderung menganggap bahwa nasi atau olahan dari beras adalah satu-satunya makanan pokok.
Data historis mencatat bahwa ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai sumber karbohidrat meningkat dari 53,5 persen pada tahun 1954 menjadi 74,6 persen pada 2017.
Sementara itu, konsumsi gandum sebagai bahan dasar tepung juga mengalami peningkatan signifikan, dari 5 persen di tahun 1954 menjadi 25,4 persen pada 2017, dan mencapai 28 persen di tahun 2022.
Sjamsul menambahkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan pangan yang sangat besar, dengan 72 jenis sumber karbohidrat, sekitar 100 jenis kacang-kacangan, serta 450 varietas buah-buahan.
Ia menilai bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk membangkitkan kembali budaya konsumsi pangan lokal di tengah masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi Forum Bumi yang diselenggarakan oleh Yayasan KEHATI bekerja sama dengan National Geographic Indonesia, mengangkat tema “Bagaimana Masa Depan Ketahanan dan Keanekaragaman Pangan Indonesia?”
Diskusi ini bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya kembali pada pangan lokal di tiap daerah demi menjaga ketahanan pangan nasional.
