Foto: halodoc
Ilmuwan Ini Tinggalkan Laboratorium Demi Menjadi Petani Kelor Sukses
Seorang ilmuwan menemukan panggilan baru dalam hidupnya setelah melakukan penelitian mendalam mengenai profesi petani kelor.
Hasil dari pengamatannya justru membuatnya tertarik untuk berpindah haluan dan menekuni dunia pertanian.
Belakangan ini, semakin banyak orang yang memilih keluar dari zona nyaman mereka. Tak sedikit yang meninggalkan pekerjaan tetap demi mengejar mimpi baru, meskipun harus memulai dari nol. Keputusan seperti ini tentu membutuhkan keberanian dan tekad yang besar.
Bekerja dengan pendapatan tetap dan rutinitas yang jelas ternyata tidak selalu membawa kepuasan bagi semua orang.
Beberapa individu lebih tertarik mengejar kebebasan dan tantangan, meski jalannya tidak mudah.
Dilansir dari Detik, hal ini juga terjadi pada Dr. Kandasami Saravanan, seorang ilmuwan asal India yang memutuskan untuk meninggalkan dunia riset dan beralih menjadi petani kelor.
Ia berasal dari desa Somankottai, Tiruppur, Tamil Nadu, dan sebelumnya telah menekuni dunia akademik selama bertahun-tahun.
Keputusan Saravanan untuk terjun ke dunia pertanian bukan didorong oleh keuntungan semata.
Ia justru merasa prihatin karena banyak petani kelor di daerahnya tidak mampu mengoptimalkan hasil panen. Akibatnya, harga jual kelor sangat rendah, terutama saat musim panen tiba.
Menurut Saravanan, petani biasanya hanya mendapatkan antara Rp 18.000 hingga Rp 27.000 per kilogram, namun harga bisa anjlok drastis menjadi sekitar Rp 1.000 per kilogram ketika panen melimpah.
Padahal, daun kelor memiliki banyak manfaat kesehatan yang seharusnya bisa meningkatkan nilainya.
Melihat kondisi ini, Saravanan mulai mencari solusi. Ia mulai menanam kelor secara organik dan memberikan perlakuan khusus agar kualitas daunnya meningkat.
Pengetahuannya sebagai ilmuwan yang telah bekerja di Tamil Nadu Agriculture University selama tujuh tahun menjadi modal utama dalam eksperimennya.
Ia mengatur jarak tanam dengan cermat untuk memastikan setiap pohon tumbuh optimal. Lahan seluas empat akre ia kelola dengan tujuan menghasilkan daun kelor yang padat nutrisi dan bermanfaat bagi masyarakat yang sering menggunakannya dalam bentuk sup maupun bubuk.
Setelah melalui berbagai percobaan dan evaluasi, Saravanan akhirnya menemukan metode penanaman yang paling efisien. Hasilnya sangat memuaskan — daun kelor dari kebunnya kini dihargai hingga Rp 145.000 per kilogram.
Tak hanya sukses secara lokal, produk kelor Saravanan juga telah menarik perhatian pasar internasional. Pembeli dari Amerika Serikat, Kanada, Eropa, dan sejumlah negara lainnya menjadi pelanggan tetapnya.
Langkah berani Saravanan menunjukkan bahwa perubahan besar dalam hidup bisa membawa hasil yang luar biasa, terutama ketika didasari oleh niat untuk memperbaiki kondisi masyarakat sekitar.
