Foto: pixabay
Gorontalo Punya Potensi Besar sebagai Sentra Jambu Mete Berkualitas Tinggi
Provinsi Gorontalo dinilai memiliki peluang besar dalam pengembangan tanaman jambu mete yang bernilai ekonomi tinggi.
Melansir Antara, hal ini disampaikan oleh Sri Handayaningsih, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, saat berkunjung ke Desa Totopo, Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo.
Sri mengungkapkan bahwa biji jambu mete yang dipanen di desa tersebut berukuran besar dan memiliki kualitas unggulan.
Di Jakarta, biji mete utuh yang sudah digoreng bisa dijual dengan harga mencapai Rp450 ribu per kilogram.Ia juga menyebutkan bahwa proses pengolahan lain seperti penggorengan tanpa minyak bisa membuat nilai jualnya menjadi lebih tinggi.
Menurutnya, harga mete memang bervariasi antarwilayah, namun Gorontalo memiliki potensi kuat untuk menjadi daerah produsen jambu mete yang kompetitif di pasar nasional.
Tanaman jambu mete yang dipanen di Totopo merupakan hasil dari program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dengan pola agroforestri yang dijalankan oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Bone Bolango.
Program ini bertujuan tidak hanya untuk konservasi lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat setempat.
Sri berharap keberhasilan program RHL di Gorontalo, yang kini sudah memasuki tahap pemeliharaan tahun kedua, bisa menjadi contoh bagi daerah lain.
Ia menekankan bahwa pengelolaan lahan kritis seperti di Gorontalo sangat cocok menggunakan pendekatan agroforestri, mengingat kondisi topografi daerah tersebut yang banyak memiliki kemiringan tajam di atas 25 persen.
Dari sisi pelaksanaan, Kepala BPDAS Bone Bolango, Heru Permana, menjelaskan bahwa program RHL Agroforestri telah mencakup sekitar 2.500 hektare lahan di seluruh wilayah Provinsi Gorontalo.
Lahan tersebut ditanami berbagai jenis tanaman buah seperti jambu mete, rambutan, dan durian, serta tanaman keras seperti mahoni, gmelina, dan nyato.
Secara khusus, lahan yang digarap di Desa Totopo seluas 90 hektare dan dikelola oleh kelompok tani yang terlibat dalam program RHL.
Heru berharap kegiatan ini mendapat dukungan lanjutan dari Pemerintah Provinsi Gorontalo, terutama dalam hal pemeliharaan dan pendampingan kelompok tani dari proses budidaya hingga pemasaran hasil panen.
Dengan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, diharapkan program ini mampu mendorong kesejahteraan petani sekaligus mempercepat pemulihan kondisi lingkungan di wilayah Gorontalo.
