Daun Kelor, Solusi Murah dan Efektif Cegah Stunting Menuju Indonesia Emas 2045 Daun Kelor, Solusi Murah dan Efektif Cegah Stunting Menuju Indonesia Emas 2045

Foto: pixabay

  • RAA
  • Kamis, 29 Mei 2025 - 14:11 WIB

Daun Kelor, Solusi Murah dan Efektif Cegah Stunting Menuju Indonesia Emas 2045


Masalah stunting atau gangguan pertumbuhan anak masih menjadi tantangan besar yang dihadapi Indonesia.

Tak hanya pemerintah pusat, pemerintah daerah seperti di Jawa Barat pun turut bergerak aktif dalam menangani persoalan ini.

Jika tidak diatasi secara serius, stunting dapat menjadi hambatan besar dalam mewujudkan visi Indonesia Emas pada tahun 2045.

Data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2020 mencatat bahwa lebih dari 149 juta balita di dunia mengalami stunting.


Dari jumlah tersebut, sekitar 6,3 juta balita berasal dari Indonesia. Pemerintah menargetkan angka stunting bisa ditekan hingga 14 persen pada tahun 2024.

Stunting sendiri disebabkan oleh berbagai hal, seperti kurangnya gizi selama masa pertumbuhan anak hingga kondisi kesehatan ibu saat masa kehamilan. Faktor ekonomi dan keterbatasan akses terhadap makanan bergizi juga menjadi penyebab utama.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah mendorong masyarakat untuk mengonsumsi makanan tinggi protein, seperti telur.

Namun, ternyata ada alternatif lain yang lebih murah, mudah didapat, dan memiliki manfaat besar untuk mengatasi stunting.

Seperti yang dilansir dari Detik, dr Theresia Monica Rahardjo, dosen dari Fakultas Kedokteran Universitas Maranatha Bandung, memperkenalkan daun kelor sebagai solusi alami yang ampuh untuk mengatasi gagal tumbuh pada anak.

Dalam bukunya yang berjudul "Daun Kelor, Stunting dan Ketahanan Nasional", ia menjelaskan bahwa daun kelor (Moringa oleifera) mengandung berbagai nutrisi penting yang sangat dibutuhkan tubuh.

Menurutnya, daun kelor terbukti dapat menurunkan tingkat keparahan stunting, mulai dari kategori berat ke sedang, sedang ke ringan, hingga ringan ke kondisi normal.


Ini berdasarkan berbagai riset yang menunjukkan efektivitas tanaman ini dalam memperbaiki status gizi anak.

Kandungan gizi dalam 20 gram daun kelor cukup lengkap, mulai dari vitamin B6, vitamin C, zat besi, vitamin B2, vitamin A, hingga magnesium. Semua kandungan ini merupakan elemen penting untuk mendukung pertumbuhan anak yang sehat.

Lebih dari sekadar bahan pangan bergizi, daun kelor juga berpotensi menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat. Tanaman ini bisa diolah menjadi produk bernilai seperti teh dan kopi, yang jika dikembangkan secara luas dapat menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat.

Oleh karena itu, dr Theresia Monica mengajak seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah untuk menggerakkan program penanaman satu pohon kelor di setiap rumah tangga.


Dia meyakini bahwa gerakan ini bukan hanya akan mendukung perbaikan gizi nasional, tapi juga memperkuat ketahanan ekonomi dan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

Dia menegaskan bahwa langkah ini bisa menjadi bagian dari strategi nasional menuju Indonesia Emas 2045, dengan memanfaatkan potensi demografi secara optimal.