Harmoni Hutan & Ekonomi Lewat Perhutanan Sosial Harmoni Hutan & Ekonomi Lewat Perhutanan Sosial

Foto: pixabay

  • RAA
  • Jumat, 23 Mei 2025 - 12:38 WIB

Harmoni Hutan & Ekonomi Lewat Perhutanan Sosial


Keseimbangan antara melestarikan hutan dan memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat sering kali menimbulkan dilema.

Upaya mencari penghidupan kadang menyebabkan eksploitasi berlebihan yang merusak alam. Tak jarang, dalam upaya mengais rezeki, masyarakat lupa cara menjaga keberlanjutan hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Untuk menjawab tantangan tersebut, hadirnya program perhutanan sosial menjadi salah satu solusi yang menjembatani kebutuhan ekonomi dan pelestarian alam.


Melalui pendekatan ini, pengelolaan hutan dilakukan secara berkelanjutan oleh masyarakat, dengan tetap menjaga fungsi ekologisnya.

Dilansir dari Antara, pada awal tahun 2021, negara menunjukkan keseriusannya dalam mendukung perhutanan sosial melalui penyerahan 2.929 Surat Keputusan Perhutanan Sosial yang mencakup lahan seluas 3.442.000 hektare di seluruh Indonesia.

Langkah ini juga menjadi bagian dari program redistribusi aset dalam kerangka kebijakan perhutanan sosial dan reformasi agraria.


Salah satu wilayah yang aktif menjalankan program ini adalah Provinsi Lampung, yang memiliki areal perhutanan sosial seluas 185.913 hektare.

Contoh nyatanya bisa dilihat di Desa Way Kalam, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan. Terletak di kaki Gunung Rajabasa, desa ini berada dalam kawasan konservasi yang masih alami.


Masyarakat setempat, khususnya yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan Mulia, memanfaatkan potensi hutan dengan membudidayakan lebah penghasil madu.

Jenis lebah yang dibudidayakan antara lain Dorsata, Trigona, dan Cerana. Kegiatan ini bukan hanya memberikan penghasilan, tetapi juga turut menjaga kelestarian hutan.


Salah satu warga, Muhamad Syukur Yakub, mulai menggeluti budidaya lebah Trigona sejak setahun terakhir, tepatnya saat pandemi COVID-19 melanda.

Meskipun awalnya menghadapi banyak tantangan, Yakub tetap semangat dan mengajak anggota kelompok tani lainnya untuk terus mengembangkan budidaya madu.

Mereka memulai dengan menyiapkan stup atau rumah lebah, lalu mencari koloni lebah di hutan Gunung Rajabasa.

Proses pencarian ini dilakukan dengan cara yang menjaga keseimbangan alam, tidak merusak hutan, dan justru menambah populasi lebah liar dengan membuat rumah baru dan menanam tanaman sebagai sumber pakan alami.

Perjalanan mencari koloni lebah tidak mudah. Mereka harus menembus medan hutan yang menantang, menyusuri jalan setapak yang licin dan curam di sekitar air terjun.

Namun semua itu dilakukan dengan semangat untuk menjaga harmoni antara alam dan kehidupan manusia.


Kini, pemandangan rumah-rumah lebah yang tertata rapi dan sarang-sarang alami yang menggantung di pohon aren menjadi hal yang biasa di Desa Way Kalam.

Bunga-bunga yang tumbuh di halaman rumah dan sepanjang jalan desa juga menjadi sumber pakan bagi lebah, sekaligus memperindah lingkungan.


Melalui usaha seperti ini, masyarakat setempat membuktikan bahwa menjaga hutan dan meningkatkan ekonomi bisa berjalan berdampingan, saling menguatkan, dan menjadi warisan lestari bagi generasi mendatang.