Foto: pixabay
Madu Hutan Sumbawa, Warisan Alam yang Mengubah Kehidupan Warga
Pulau Sumbawa yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat dikenal sebagai daerah penghasil madu hutan yang berkualitas.
Wilayah perbukitan di pedalaman dengan hutan lebat menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat sekitar, khususnya melalui produksi madu alami.
Melansir Good News From Indonesia, sebelum memasuki era 1990-an, nama Sumbawa belum dikenal luas sebagai pemasok utama madu hutan. Bagi masyarakat di kawasan Batu Dulang, hasil hutan seperti kemiri dan kopi arabika justru lebih bernilai dibandingkan madu dari sarang lebah liar.
Namun, seiring meningkatnya minat terhadap madu alami di dalam negeri, madu dari hutan Batulanteh pun mulai mendapat perhatian dan menjadi komoditas andalan. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, madu hutan dari wilayah ini mulai dikenal luas di berbagai daerah.
Pada tahun 2019, tercatat sudah terbentuk 26 kelompok dalam jaringan petani madu yang dinamakan Jaringan Madu Hutan Sumbawa atau JMHS, dengan total anggota mencapai lebih dari seribu orang. Pengembangan kelompok tani madu terus digalakkan agar wilayah lain di Pulau Sumbawa ikut terlibat.
Menurut Junaidi, selaku Sekretaris JMHS, masyarakat Batu Dulang sejak lama memiliki kemampuan dalam mengelola hasil hutan non-kayu seperti madu, kemiri, dan kopi. Produksi madu sendiri sudah dilakukan sejak 1996 meskipun masih menggunakan metode yang sangat sederhana.
Dahulu, proses pemerasan madu masih dilakukan secara manual tanpa proses penyaringan. Madu dijual dalam kondisi masih tercampur dengan potongan sarang lebah dan dikemas menggunakan botol plastik bekas, bahkan tutupnya hanya menggunakan bonggol jagung dan tanpa label apa pun.
Pada masa itu, madu bukanlah sumber penghasilan utama karena harganya rendah dan hanya dicari jika ada yang datang membeli. Namun semua mulai berubah setelah kelompok Hutan Lestari didirikan pada tahun 2000.
Kelompok ini mulai memperbaiki cara pengemasan dengan menggunakan botol kaca serta memberi label cetakan sederhana.
Lalu sejak tahun 2007, teknik pemanenan madu juga ditingkatkan. Petani madu mulai hanya mengambil bagian sarang yang berisi madu dan membiarkan sarang yang berisi larva tetap utuh.
Dengan metode ini, satu sarang dapat dipanen hingga tiga kali dalam satu musim. Panen pertama bisa menghasilkan sembilan kilogram, yang kedua mencapai dua belas kilogram, dan panen terakhir bisa menyentuh delapan belas kilogram.
Sahabudin, ketua Kelompok Sumber Alam, menjelaskan bahwa sistem baru ini membawa perubahan signifikan bagi petani. Jika dulu harga madu hanya sekitar lima belas ribu rupiah per liter, kini bisa mencapai dua ratus ribu rupiah. Kenaikan harga ini terjadi seiring dengan meningkatnya kualitas dan permintaan terhadap madu hutan Sumbawa.
Dalam sepuluh tahun, harga madu mengalami lonjakan hingga lebih dari sepuluh kali lipat. Hal ini berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi masyarakat, yang kini bisa hidup lebih sejahtera. Kemajuan juga terlihat dari semakin mudahnya petani menjangkau lokasi hutan karena sudah memiliki kendaraan seperti sepeda motor.
Keberadaan madu hutan turut menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian alam.
Masyarakat Batu Dulang kini berkomitmen untuk tidak menebang pohon di sekitar lokasi sarang lebah dan aktif mencegah terjadinya kebakaran hutan.
Menurut Salabuddin, kesepakatan menjaga hutan berarti melindungi sumber kehidupan mereka. Karena kesejahteraan masyarakat kini bergantung pada madu, mereka pun enggan merusak lingkungan.
Jika hutan rusak, produksi madu akan menurun, dan itu akan berdampak pada penghidupan mereka.
