Kacang Mete, Oleh-Oleh Legendaris dari Wonogiri yang Tetap Bertahan di Tengah Tantangan Kacang Mete, Oleh-Oleh Legendaris dari Wonogiri yang Tetap Bertahan di Tengah Tantangan

Foto: pixabay

  • RAA
  • Senin, 12 Mei 2025 - 17:43 WIB

Kacang Mete, Oleh-Oleh Legendaris dari Wonogiri yang Tetap Bertahan di Tengah Tantangan


Kacang mete sudah lama dikenal sebagai salah satu oleh-oleh khas dari Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.


Meskipun belum ada catatan pasti kapan komoditas ini mulai dikaitkan dengan kota yang dikenal dengan sebutan Kota Sukses, namun perkembangan industri kacang mete di daerah ini terus berlangsung seiring waktu.

Dilansir dari Solo Pos, Menurut Parno, Subkoordinator Bidang Perkebunan dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Wonogiri, kacang mete mulai menjadi camilan khas daerah tersebut sejak era Orde Baru.

Sekitar tahun 1980-an, wilayah Wonogiri menjadi salah satu pusat budidaya tanaman jambu mete di Pulau Jawa.


Tanaman jambu mete sendiri memerlukan kondisi lingkungan yang kering dan banyak sinar matahari, menjadikannya cocok tumbuh di lahan berbukit dan panas seperti yang ada di Wonogiri.


Faktor inilah yang menyebabkan daerah ini menjadi wilayah dengan penanaman jambu mete terbanyak di Jawa.


Parno menjelaskan bahwa dahulu penanaman dilakukan secara besar-besaran, terutama di kawasan Jatiroto, Ngadirojo, dan Pracimantoro. 


Pada masa itu bahkan sempat dibentuk unit pelayanan publik khusus untuk mendukung pengembangan tanaman mete.

Meskipun keberadaan UPP mete terhenti sejak berakhirnya Orde Baru pada tahun 1998, kegiatan pengolahan dan kerajinan berbasis mete tetap berlangsung.

Kecamatan Jatisrono menjadi pusat dari aktivitas ini, termasuk produksi aneka olahan kacang mete yang masih dilakukan hingga saat ini.


Berdasarkan data tahun 2022 dari Dispertan Pangan Wonogiri, tercatat ada lebih dari 20 ribu pohon jambu mete yang tumbuh di lahan seluas hampir 21 ribu hektare, menjadikan Wonogiri sebagai daerah dengan cakupan tanaman jambu mete terbesar di Jawa.


Dalam prakteknya, pengolahan mete di Wonogiri umumnya masih sederhana, dengan produk utama berupa kacang mete goreng dan panggang.


Salah satu pelaku usaha di sektor ini adalah Siswanto, warga Kecamatan Jatisrono yang sudah sejak kecil akrab dengan usaha mete karena meneruskan bisnis keluarganya.

Siswanto mengatakan bahwa usaha ini sudah ada sejak masa Orde Baru. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kacang mete lokal dari Wonogiri mulai tergeser oleh produk dari luar daerah seperti Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat.

Produksi mete lokal mengalami kendala akibat perubahan cuaca yang menyebabkan gagal panen, sementara kualitas mete Wonogiri sejatinya memiliki cita rasa khas dengan rasa manis alami yang tidak ditemukan di mete dari daerah lain.

Walau produksi kacang mete lokal menurun, industri pengolahan masih terus berputar. Siswanto sendiri kini berperan sebagai pengepul biji mete basah dan penjual biji mete kering. Untuk memprosesnya, ia bekerja sama dengan jasa pengupas kulit mete sebelum kemudian menjual produk jadi ke pasaran.