Foto: pixabay
Budidaya Lebah Tanpa Sengat Jadi Inovasi Ekonomi Mandiri di Pondok Pesantren
Universitas Indonesia melalui tim penelitinya memperkenalkan teknologi budidaya lebah tanpa sengat sebagai solusi untuk mendorong kemandirian ekonomi di lingkungan pondok pesantren.
Dilansir dari Antara, Muhamad Sahlan, ketua tim peneliti dari UI, menyatakan bahwa pemilihan metode ini dianggap tepat karena teknik budidayanya cukup sederhana, lebahnya jinak, dan produk madunya memiliki nilai jual yang tinggi.
Menurutnya, lebah jenis ini mampu hidup berdampingan dengan manusia sehingga sangat cocok dikembangkan di pesantren.
Ia juga menekankan bahwa apabila mayoritas pondok pesantren di Indonesia mampu membudidayakan lebah tanpa sengat, maka mereka dapat menghasilkan madu dan bibit lebah yang bernilai komersial. Usaha ini diprediksi dapat menjadi penggerak perekonomian di tingkat lokal hingga nasional.
Lebih lanjut, Sahlan menjelaskan bahwa madu dikenal sebagai produk alami yang baik untuk menjaga daya tahan tubuh, dan manfaatnya telah terbukti secara ilmiah serta didukung oleh ajaran Nabi Muhammad SAW.
Sahlan juga menambahkan bahwa jika di masa penjajahan pesantren berperan dalam perjuangan kemerdekaan, maka di masa kini mereka berperan dalam mengatasi tantangan ekonomi melalui usaha mandiri berbasis budidaya.
Tim dari Universitas Indonesia yang terlibat dalam proyek ini terdiri dari beberapa dosen dan peneliti lintas fakultas seperti Dr. Eng. Muhamad Sahlan, Prof. Dr. Heri Hermansyah, Dr. Kenny Lischer, Dr. Aprilliana Cahya, dan Dr. Rambat Lupiyoadi. Mereka juga bekerja sama dengan praktisi perlebahan seperti Chandra Akso Diana, Jeffry Lesmana, dan Yogie.
Sebagai proyek percontohan, tiga pesantren dipilih untuk menjalankan program ini yaitu Pondok Pesantren Nurul Qur’an di Bengkulu, Pondok Pesantren Alam Indonesia di Sulawesi Selatan, dan Pondok Pesantren Al-Kahfi di Nusa Tenggara Barat.
Ustad Nanang dari Pondok Pesantren Nurul Qur’an menyampaikan bahwa program budidaya lebah ini sangat membantu pesantren mereka.
Ia mengungkapkan bahwa produksi madu selalu habis terjual dan memberikan pemasukan yang signifikan bagi pesantren.
Dua pengasuh pondok pesantren lainnya, yakni Dr. Hisbullah dari Sulawesi Selatan dan Ustad Fuad dari Nusa Tenggara Barat juga memberikan tanggapan positif.
Mereka menilai budidaya lebah tanpa sengat sangat sesuai untuk diterapkan karena lokasi pesantren mereka berdekatan dengan kawasan hutan lindung, yang menjadi habitat ideal untuk lebah.
Dengan kondisi geografis yang mendukung dan semangat kemandirian, program ini menjadi langkah konkret untuk memperkuat peran pesantren dalam pengembangan ekonomi berbasis alam.
