Foto: pixabay
Dari Hutan ke Dunia: Perjalanan Madu Sumbawa yang Mendunia
Rasa manis dan khasiat dari madu Sumbawa tidak hanya memikat konsumen dalam negeri, tetapi juga telah menarik perhatian pasar internasional.
Kandungan alami dalam madu dipercaya mampu membantu proses penyembuhan berbagai penyakit, menjadikannya komoditas yang bernilai tinggi.
Madu sendiri merupakan cairan pekat yang manis, dihasilkan oleh lebah dari sari bunga. Proses pembuatannya cukup unik.
Berdasarkan informasi dari Wikipedia, lebah pekerja akan mengeluarkan nektar dari kantung madunya, kemudian nektar tersebut dikunyah dan diolah bersama lebah lain. Setelah halus, nektar ditempatkan ke dalam sel sarang dan melalui proses fermentasi alami setelah sel ditutup.
Melansir Antara, di Pulau Sumbawa, kegiatan berburu madu di alam liar telah menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Para pemburu madu harus menghadapi kondisi alam yang menantang karena banyak sarang lebah berada di tebing curam, gua-gua terjal, atau kaki bukit yang sulit dijangkau.
Untuk mengambil madu, mereka menggunakan alat bantu seperti tangga tali dan keranjang, sembari menghadapi resiko besar selama proses panen.
Berburu madu bukanlah aktivitas baru. Para ahli meyakini bahwa manusia telah melakukannya sejak masa prasejarah, bahkan sejak sekitar 13.000 tahun sebelum masehi.
Meskipun tradisi ini terus dijaga, kenyataan di lapangan kini berbeda. Deforestasi dan perambahan hutan membuat sarang lebah semakin sulit ditemukan, sehingga hasil madu dari alam liar semakin menurun.
Melihat kondisi ini, sebagian masyarakat mulai beralih ke cara yang lebih berkelanjutan, yakni dengan membudidayakan lebah madu. Salah satu jenis lebah yang mulai dikembangkan adalah lebah trigona, yang dikenal tidak bersengat dan cocok dibudidayakan dalam skala kecil maupun besar.
Warga Desa Bukit Damai, yang terletak di Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, kini mulai menekuni usaha budidaya lebah trigona.
Menurut Beni Azhar, salah seorang warga yang terlibat dalam usaha ini, budidaya lebah trigona mulai dilakukan oleh masyarakat desa sejak beberapa bulan terakhir.
Ia menjelaskan bahwa madu dari lebah trigona memiliki nilai jual yang tinggi dan masih belum banyak digeluti peternak lain, sehingga menawarkan peluang ekonomi yang menjanjikan.
Usaha ini diharapkan bisa menjadi alternatif penghasilan baru yang tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menjaga kelestarian alam dan membuka jalan bagi ekspor madu berkualitas dari Sumbawa ke berbagai penjuru dunia.
