Lahan Semakin Menyempit, Indonesia Naikkan Impor Kakao Lahan Semakin Menyempit, Indonesia Naikkan Impor Kakao

Dark Cacao Timurasa Indonesia

  • RAA
  • Sabtu, 10 Mei 2025 - 08:24 WIB

Lahan Semakin Menyempit, Indonesia Naikkan Impor Kakao


Berdasarkan Data Statistik Kakao Indonesia 2023, terjadi penyusutan signifikan pada luas areal perkebunan kakao nasional. Dalam kurun empat tahun, lahan kakao menyusut dari 1,56 juta hektare (2019) menjadi 1,39 juta hektare (2023).

Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan output nasional dimana produksi anjlok dari 734,8 ribu ton menjadi 632,12 ribu ton, hasil panen per hektar turun dari 705 kg/ha menjadi 640 kg/ha.

Penurunan produksi kakao domestik telah mengganggu stabilitas rantai pasok industri. Meski pabrik pengolahan dalam negeri tetap beroperasi untuk memenuhi permintaan ekspor, minimnya pasokan bahan baku lokal membuat ketergantungan pada impor semakin tidak terelakkan.

Yang menarik, justru di saat harga kakao dunia mengalami penurunan, Indonesia malah mencatat peningkatan tajam dalam volume impor kakao dan produk turunannya.

Komposisi ekspor kakao Indonesia menunjukkan dominasi produk olahan dibanding biji kakao mentah. Fakta ini mengindikasikan bahwa industri pengolahan dalam negeri lebih banyak mengandalkan bahan baku impor.

Penurunan harga kakao global memang memberikan keuntungan jangka pendek bagi industri pengolahan melalui biaya bahan baku yang lebih murah. Namun, ketergantungan tinggi pada impor mengandung risiko serius jika terjadi kenaikan harga global. Tanpa upaya nyata untuk meningkatkan produksi domestik, posisi Indonesia dalam pasar kakao dunia akan tetap rentan terhadap gejolak harga.

Dengan tren penurunan produksi yang terus berlanjut, apakah pembangunan industri kakao nasional kita sedang menuju kemandirian atau justru semakin terperangkap dalam ketergantungan impor?