Foto: pixabay
Potensi Ekspor Kacang Mete Ke Vietnam & India
Kacang mete, komoditas perkebunan tropis asal Indonesia, memiliki citra unik, rasanya yang kaya, teksturnya yang renyah, dan nilai ekonominya yang menjanjikan. Meski kurang mendapat perhatian publik, produk ini ternyata menjadi salah satu penyumbang ekspor andalan negeri ini. Setelah mengalami fluktuasi dalam lima tahun terakhir, tahun 2024 menjadi momentum kebangkitan ekspor kacang mete Indonesia, dengan Vietnam dan India kembali menjadi pasar utama bagi produk lokal.
Menurut data Kementerian Pertanian, kacang mete atau disebut juga jambu monyet di beberapa wilayah—merupakan komoditas strategis yang cocok dibudidayakan di lahan marginal yang biasanya dianggap kurang subur. Tanaman ini tidak hanya menghasilkan biji bernilai tinggi, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai produk turunan seperti kacang mete siap konsumsi, sirup, hingga minyak CNSL (Cashew Nut Shell Liquid) yang banyak digunakan di industri.
Meski dalam perdagangan internasional kacang mete mungkin tidak sepopuler komoditas seperti beras atau kopi, namun, kontribusinya terhadap devisa negara terbilang signifikan, dengan nilai ekspor yang kerap mencapai ratusan juta dolar AS setiap tahunnya.
Pada rentang tahun 2019 hingga 2021, ekspor kacang mete Indonesia menunjukkan tren negatif. Nilai ekspor yang semula mencapai US$ 121 juta pada 2019 merosot menjadi hanya US$ 70 juta pada 2021. Tidak hanya nilai, volume ekspor juga mengalami penurunan, mengindikasikan adanya tantangan baik dari sisi produksi domestik maupun melemahnya permintaan pasar global.
Tahun 2024 menjadi titik balik positif bagi ekspor kacang mete Indonesia. Nilai ekspor kembali pulih mencapai US$101,5 juta dengan volume mencapai 62,8 juta kg—angka tertinggi dalam enam tahun terakhir. Meski pasar menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, harga per kilogram belum mampu menyamai rekor tertinggi di tahun 2022.
Vietnam dan India Pasar Utama yang Dominan
Kedua negara ini tetap menjadi tujuan utama, menyerap lebih dari 99% total ekspor kacang mete Indonesia. Vietnam khususnya terus mempertahankan posisinya sebagai importir terbesar. Pada 2022 saja, nilai ekspor ke Vietnam bahkan melesat hingga US$251 juta, menyumbang 99% dari total ekspor nasional tahun tersebut.
Fakta ini menguatkan peran Indonesia sebagai pemasok bahan baku utama bagi industri pengolahan di Vietnam dan India. Kedua negara ini kemudian mengolah dan mengemasnya untuk dijual kembali ke pasar global dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
