Produksi Gula Aren Rejang Lebong Capai Lebih dari 5.400 Ton per Tahun! Produksi Gula Aren Rejang Lebong Capai Lebih dari 5.400 Ton per Tahun!

Foto: alodokter

  • RAA
  • Kamis, 08 Mei 2025 - 14:27 WIB

Produksi Gula Aren Rejang Lebong Capai Lebih dari 5.400 Ton per Tahun!


Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, mengungkapkan bahwa daerah tersebut mencatat produksi gula aren sebesar 5.443,8 ton per tahun.

Melansir Antara, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Rejang Lebong, Zulkarnain, menyampaikan bahwa gula aren menjadi salah satu komoditas unggulan selain kopi dan berbagai jenis sayuran.

Ia menyebutkan bahwa angka produksi tersebut berdasarkan data sepanjang tahun 2022, dengan rata-rata hasil panen mencapai 2,2 ton per hektare setiap tahunnya.


Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terjadi peningkatan produksi sebesar 1,8 ton. Pada 2021, jumlah produksi tercatat sebanyak 5.442 ton.

Zulkarnain menjelaskan bahwa gula aren Rejang Lebong dihasilkan dari kebun milik masyarakat yang tersebar di 14 dari 15 kecamatan, dengan total lahan mencapai 2.301 hektare.


Kegiatan budidaya dan pengolahan pohon aren di wilayah ini telah menjadi sumber mata pencaharian bagi sekitar 4.857 petani dan perajin.


Para pelaku usaha ini bisa memperoleh penghasilan harian antara 150 hingga 300 ribu rupiah, tergantung pada volume produksi setiap harinya.

Harga jual gula aren dalam bentuk cetak di tingkat petani diperkirakan sekitar 15 ribu rupiah per kilogram.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa Kabupaten Rejang Lebong telah memiliki varietas unggulan lokal bernama Semulen ST-1. Jenis ini resmi dilepas oleh Kementerian Pertanian pada tahun 2018, dan bibitnya telah diperbanyak oleh masyarakat.

Varietas Semulen ST-1 memiliki beberapa kelebihan, di antaranya tahan terhadap hama, dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, serta mulai menghasilkan nira saat tanaman berusia 6 hingga 7 tahun. Dalam sehari, pohon ini mampu menghasilkan air nira sebanyak 15 hingga 30 liter. Tinggi tanaman juga relatif pendek, hanya sekitar 10 meter, membuatnya lebih mudah dikelola.

Zulkarnain juga menyampaikan bahwa bibit varietas Semulen ST-1 tidak hanya dipasarkan di Bengkulu, tetapi juga telah dikirim ke sejumlah wilayah lain seperti Aceh, Kalimantan, Pulau Jawa, hingga Bali.