Foto: pixabay
Cokelat Blitar Didorong Tembus Pasar Ekspor oleh Mendag Budi Santoso
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan dukungannya terhadap produsen coklat asal Blitar untuk memperluas jangkauan pasar ke luar negeri melalui kegiatan ekspor.
Dilansir dari Antara, Ia meyakini bahwa kualitas coklat Indonesia memiliki daya saing tinggi di tingkat internasional.
Untuk mempercepat langkah ekspor ini, Kementerian Perdagangan menjalankan program unggulan yang dinamakan UMKM BISA Ekspor, yaitu inisiatif yang mendorong pelaku usaha kecil dan menengah agar berani berinovasi serta siap menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar ekspor.
Dalam keterangannya dari Jakarta pada hari Selasa, Budi menjelaskan bahwa bahan baku coklat yang digunakan berasal dari petani di wilayah Blitar dan sekitarnya di Jawa Timur.
Hasil olahan coklat ini sudah banyak beredar di pasar lokal, dan kini waktunya untuk menjangkau pasar mancanegara.
Saat berkunjung ke Kampung Coklat di Blitar, ia menyebutkan bahwa ada banyak peluang yang bisa diraih produsen coklat lokal jika memanfaatkan fasilitas dari program UMKM BISA Ekspor.
Selain membantu membuka pasar luar negeri, program ini juga mendukung proses hilirisasi produk coklat agar Indonesia dapat mengirimkan produk olahan, bukan hanya bahan mentah, ke pasar global.
Budi menegaskan bahwa Indonesia seharusnya dikenal sebagai negara penghasil coklat olahan, bukan hanya sebagai penyedia biji kakao.
Ia berharap ekspor produk jadi dapat ditingkatkan sehingga nilai tambah dapat dinikmati oleh pelaku usaha dalam negeri.
Kampung Coklat sendiri telah mengikuti sejumlah program peningkatan kapasitas ekspor yang digagas oleh Kemendag.
Perusahaan ini termasuk salah satu penerima fasilitas sertifikasi HACCP pada tahun 2024, dari total sekitar lima ratus perusahaan yang berminat terhadap program tersebut.
Tak hanya itu, Kampung Coklat juga menjadi peserta program New Export Breakthrough atau NEXT tahun 2024. Program ini merupakan kolaborasi antara Kemendag dan Business & Export Development Organization (BEDO), yang menawarkan pendampingan ekspor secara intensif, baik secara daring maupun luring selama setahun, khususnya untuk sektor perkebunan.
Pada tahun yang sama, beberapa negara tujuan utama ekspor produk kakao dari Indonesia meliputi India, Amerika Serikat, Malaysia, Tiongkok, dan Estonia.
Selain fokus pada pasar internasional, Budi juga menyarankan agar akses pasar domestik terus diperluas.
Salah satunya melalui kemitraan dengan jaringan ritel modern yang bisa membantu mendistribusikan produk coklat ke lebih banyak wilayah.
Ia menyampaikan bahwa saat ini Kampung Coklat telah bekerja sama dengan beberapa jaringan ritel lokal di wilayah Jawa Timur.
Harapannya, kolaborasi ini bisa berkembang ke skala nasional, sehingga produk coklat asal Blitar bisa ditemukan dengan mudah di minimarket dan supermarket di seluruh Indonesia.
