Foto: blibli
Kebangkitan Kakao di Lembah Grime Nawa: Harapan Baru dari Kampung Imsar
Kicauan merdu burung Undo Bayo menggema menyambut pagi di Lembah Grime Nawa, Tanah Papua. Suara burung khas ini melintasi rimbunnya hutan hujan tropis yang menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna endemik Papua.
Melansir Antara, di balik hijaunya lembah seluas 900 ribu hektare, kebun-kebun kakao membentang menghiasi pemandangan.
Lembah ini dilalui oleh Sungai Grime yang mengalir melewati wilayah adat Kemtuk, Klesi, dan Namblong, sementara Sungai Nawa mengalir melintasi Kaureh dan Kautabakhu di Kabupaten Jayapura.
Pada awal Februari 2025, Photovoices International (PVI) bersama Organisasi Perempuan Adat (ORPA) Suku Namblong dan Suara Grina membawa tim dari ANTARA ke Kampung Imsar, pusat kehidupan masyarakat adat di lembah tersebut.
Kampung ini dihuni oleh 106 kepala keluarga atau sekitar 411 jiwa yang berasal dari Marga Hamong, Giay, Irab, dan Hembring. Sejak zaman pendudukan Belanda tahun 1932, daerah ini telah dikenal sebagai penghasil kakao unggulan.
Salah satu petani bernama Ferdinand Giay, yang telah menanam kakao sejak 1997, menceritakan bahwa hampir seluruh warga di kampung memiliki kebun kakao.
Namun, sejak tahun 2019, serangan hama seperti kepik penghisap buah, jamur, dan penggerek membuat tanaman rusak dan banyak warga akhirnya meninggalkan kebun mereka.
Ferdinand adalah salah satu dari sedikit petani yang tetap mempertahankan kebunnya. Ia menggunakan teknik pengasapan tradisional untuk mengusir hama dan tetap menggantungkan hidup dari kakao.
Tahun 2024 membawa angin segar bagi petani di Kampung Imsar. Pemerintah Kabupaten Jayapura memperkenalkan bibit kakao baru yang diklaim lebih tahan terhadap serangan hama. Bibit tersebut dikembangkan dengan metode sambung pucuk dan sebagian besar kini sudah mulai menghasilkan panen sekitar 40 kilogram per kebun.
Hasil panen tersebut dijual kepada pembeli dari Jepang dengan harga kakao basah berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram, sedangkan kakao kering dihargai hingga Rp95 ribu per kilogram.
Yafet Irap, pengurus koperasi petani kakao setempat, menegaskan bahwa penyebab utama kemunduran kakao bukan hanya serangan hama, tetapi hilangnya permintaan pasar.
Pada masa sulit antara tahun 2019 hingga 2023, kakao dibiarkan membusuk di pohon karena tidak adanya pembeli, memaksa petani beralih menanam komoditas lain seperti vanili dan gaharu.
Dulu, sekitar 40 petani di wilayah ini tergabung dalam koperasi yang mampu memproduksi hingga 10 ton kakao per tahun. Namun ketika pasar tidak tersedia, perawatan kebun terhenti dan kualitas biji pun menurun drastis.
Pasar kakao Papua terpinggirkan karena pembeli global lebih memilih pasokan dari Afrika yang lebih melimpah.
Tetapi kondisi ini berubah pada 2024 ketika terjadi kelangkaan biji kakao di dunia. Dengan meningkatnya permintaan, pembeli kembali datang dan memicu semangat baru bagi petani di Imsar untuk menghidupkan kembali kebun-kebun mereka.
