Mengapa Makanan Jawa Cenderung Manis? Mengapa Makanan Jawa Cenderung Manis?

Gula Aren Timurasa Indonesia

  • RAA
  • Minggu, 27 April 2025 - 10:11 WIB

Mengapa Makanan Jawa Cenderung Manis?


Cita rasa manis menjadi ciri khas yang mudah dikenali dalam berbagai hidangan Jawa seperti gudeg, selat solo, maupun sambal Yogyakarta. Fenomena rasa manis yang mendominasi kuliner Jawa - terutama dari wilayah Solo dan Yogyakarta - ternyata memiliki beberapa penjelasan menarik.

Makna Rasa Manis Dalam Budaya Jawa
Menurut laporan Antara pada Kamis, 24 April 2025, Prof. Bandi Sudardi dari Fakultas Ilmu Budaya UNS Surakarta mengklasifikasikan masyarakat Jawa ke dalam tiga kelompok utama: kelompok keraton (Solo dan Yogyakarta), komunitas Banyumasan, dan masyarakat Brangwetan (Jawa Timur).

Di antara ketiga kelompok tersebut, masyarakat keraton dikenal memiliki kecenderungan paling kuat terhadap cita rasa manis. Rasa manis dalam budaya mereka bukan sekadar selera, melainkan simbolisasi akan kebahagiaan, kehidupan yang harmonis, serta kenikmatan hidup. Tak heran jika sajian manis selalu menjadi hidangan wajib dalam berbagai momen penting seperti upacara adat, pernikahan, maupun acara-acara istimewa lainnya.

Pohon Kelapa Yang Melimpah
Di sepanjang pesisir pantai Pulau Jawa, pohon kelapa tumbuh dengan lebat. Masyarakat setempat telah lama memanfaatkan nira kelapa sebagai bahan dasar pembuatan gula merah (gula jawa). Gula khas ini kemudian menjadi bahan penting dalam berbagai olahan makanan, mulai dari hidangan sayur hingga aneka kue tradisional.

Sejarah Tanam Paksa
Fenomena rasa manis yang khas pada masakan Jawa ternyata berakar dari sejarah tanam paksa era kolonial. Merujuk pada buku "Ensiklopedia Makanan Khas Jawa" (Wind Dylanesia, 2023), sistem cultuurstelsel tahun 1830 di bawah Van den Bosch mewajibkan warga mengubah pola tanam di sebagian lahannya untuk memenuhi kebutuhan pemerintah Belanda.

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tebu menjadi komoditas utama yang wajib ditanam selama era tanam paksa. Akibat kebijakan ini, hampir 70% lahan persawahan di kedua wilayah dialihfungsikan menjadi perkebunan tebu. Dampaknya, masyarakat lokal mengalami krisis pangan yang parah. Untuk bertahan hidup, mereka terpaksa mengonsumsi tebu secara langsung. Kondisi sulit ini juga memicu kreativitas dalam mengolah bahan pangan tahan lama, di mana gula menjadi salah satu solusi utama.