Berau Dorong Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Lewat Perhutanan Sosial dan Kakao Fermentasi Berau Dorong Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Lewat Perhutanan Sosial dan Kakao Fermentasi

Foto: bimata

  • RAA
  • Minggu, 13 April 2025 - 20:01 WIB

Berau Dorong Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Lewat Perhutanan Sosial dan Kakao Fermentasi


Pemerintah Kabupaten Berau bersama masyarakatnya terus melakukan berbagai langkah untuk mengurangi tingkat kerusakan hutan alam. 

Salah satu inisiatif yang dijalankan adalah program perhutanan sosial, yang memungkinkan warga sekitar hutan ikut serta dalam pengelolaan hutan secara lestari, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Pada masa lalu, pembangunan di kawasan ini lebih fokus pada pengalihan fungsi tutupan hutan menjadi kegiatan bernilai ekonomi tinggi, seperti kebun kelapa sawit maupun hutan tanaman industri. Kini, pendekatannya telah bergeser ke arah yang lebih ramah lingkungan.

Dilansir dari RRI, Sri Juniarsih, Bupati Berau, mengungkapkan bahwa Berau kini menjadi percontohan pengelolaan perhutanan sosial di Kalimantan Timur. Dalam forum diskusi Thought Leaders yang digelar oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) di Jakarta pada Rabu, 12 Maret 2025, ia menjelaskan bahwa pihaknya telah menyusun dokumen Pembangunan Kawasan Terintegrasi atau Integrated Area Development (IAD).

Dokumen ini mengatur pemanfaatan lahan perhutanan sosial seluas 98 ribu hektare di wilayah Berau.

Konsep kawasan terintegrasi ini menekankan pentingnya pelestarian sumber daya alam yang ada, sembari tetap mendorong kegiatan produktif masyarakat.

Salah satu contoh nyata adalah budidaya kakao yang dilakukan warga kampung, dengan pendampingan dari berbagai pihak termasuk YKAN. Kakao hasil budidaya masyarakat tersebut bahkan telah mampu menembus pasar nasional.

Lita Handini, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Berau, menambahkan bahwa sejumlah strategi telah diterapkan untuk mengembangkan komoditas kakao.

Strategi ini meliputi kolaborasi dengan berbagai pihak, pemetaan dan pengembangan wilayah tanaman kakao, peningkatan hasil panen, hingga pengolahan biji kakao berkualitas tinggi.

Lita juga menyebutkan bahwa dukungan pemerintah tidak berhenti di aspek teknis saja. Bantuan dalam bentuk permodalan, sistem kemitraan, promosi, serta pengolahan produk kakao turut diberikan.

Yang tak kalah penting, pendampingan intensif terus dilakukan agar para petani dapat memperluas jangkauan pasar mereka.

Salah satu petani kakao asal Kampung Merasa, Irmaya Banaweng, mengisahkan bahwa tanaman kakao sudah dikenal di kampungnya sejak tahun 1980-an. 

Perkembangan yang lebih signifikan baru dirasakan ketika pemerintah dan YKAN mulai aktif memberikan bimbingan dan pelatihan.

Irmaya menjelaskan bahwa pelatihan Internal Controlling System (ICS) yang diberikan YKAN memberikan pemahaman mendalam kepada masyarakat mengenai berbagai jenis dan kualitas kakao. Dari biji basah yang harganya paling rendah, hingga biji fermentasi yang paling diminati dan bernilai tinggi di pasar.

Tak hanya berhenti di budidaya, pelatihan juga mencakup pengolahan biji fermentasi menjadi produk makanan dan minuman oleh kelompok perempuan di Kampung Merasa.

Di sisi lain, para petani dibekali standar budidaya kakao agar hasil panennya bisa masuk ke pasar berkualitas tinggi.


Berbagai upaya ini membuahkan hasil yang membanggakan. Kakao dari Kampung Merasa berhasil masuk dalam seleksi nasional menuju Cocoa of Excellence di Paris pada tahun 2021. Produk ini dikenal sebagai salah satu dari delapan kakao fermentasi dengan karakteristik unik dan otentik dari Indonesia.