Potensi Bisnis Kacang Mete di Kepulauan Konawe Potensi Bisnis Kacang Mete di Kepulauan Konawe

Foto: kompas

  • RAA
  • Minggu, 06 April 2025 - 22:02 WIB

Potensi Bisnis Kacang Mete di Kepulauan Konawe


Kabupaten Konawe Kepulauan, atau yang dikenal juga dengan Pulau Wawonii, menyimpan potensi ekonomi yang menjanjikan di balik pesona alamnya.

Dilansir dari Detik, salah satu komoditas unggulan yang menjadi tumpuan masyarakat setempat adalah kacang mete.

Hasil pertanian ini telah lama menjadi sumber penghidupan utama karena kualitasnya yang tinggi dan nilai jualnya yang menguntungkan.

Tanah yang subur dan iklim tropis membuat tanaman mete tumbuh optimal di daerah ini. Kualitas biji mete dari Wawonii dikenal sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia, menjadikannya primadona di antara komoditas lokal. Tak sedikit warga yang memilih terjun ke usaha pengumpulan dan penjualan mete.

Joni, warga Desa Langara Wawonii Barat, memulai usahanya di bidang mete sejak 2018. Ia bercerita bahwa awalnya hanya ikut-ikutan membeli hasil panen dari petani setempat dengan modal sekitar dua hingga tiga juta rupiah.

Ia memulai dari pembelian sekitar dua ratus kilogram kacang mete, yang kemudian hanya dikeringkan dan dijual kembali ke pengepul di Kendari tanpa proses pengolahan lebih lanjut.

Namun seperti bisnis lainnya, usaha mete juga memiliki tantangan. Menurut Joni, perhitungan yang kurang tepat dalam pengeringan dapat menyebabkan kerugian karena penyusutan berat. Misalnya, dari seratus kilogram mete basah, bisa saja berkurang sepuluh kilogram setelah dijemur.

Selain itu, panen mete hanya berlangsung sekali dalam setahun, biasanya pada bulan November hingga Desember. Karena itulah, Joni juga menjalankan usaha lain seperti produksi kopra dan arang tempurung di luar musim panen mete.

Meski terbatas dalam waktu panen, keuntungan yang diperoleh cukup besar. Edi Lianto, pengepul mete lainnya, menyampaikan bahwa omzet dalam satu musim bisa menembus angka dua miliar rupiah.

Keuntungan bersih untuk satu kelompok pengepul bisa mencapai ratusan juta rupiah. Bahkan, masing-masing anggota kelompok dapat memperoleh laba hingga dua puluh juta rupiah per musim.

Edi menambahkan bahwa pengiriman mete biasanya dilakukan melalui jalur laut menuju Kendari.

Dulu, informasi mengenai harga pasar hanya bisa diperoleh melalui surat atau nota yang dibawa kapal. Namun, dengan kemajuan teknologi, kini komunikasi lebih mudah berkat internet.

Saat ini, para pengepul dapat berkomunikasi langsung dengan pembeli atau tengkulak menggunakan aplikasi WhatsApp.

Mereka bisa bertukar informasi harga secara cepat dan mengirimkan foto hasil panen sebelum pengiriman dilakukan. Teknologi pun telah mempermudah proses jual beli hasil bumi dan memperluas jangkauan pasar mereka.

Dengan potensi yang terus berkembang dan dukungan teknologi, bisnis kacang mete di Konawe Kepulauan menunjukkan prospek cerah bagi para petani dan pengepul lokal untuk terus berkembang dan meraih kesejahteraan yang lebih baik.