Foto: pixabay
Lombe Hasilkan Kacang Mete Dalam Jumlah Besar
Tiga perempuan duduk di bangku pendek, mengitari meja bundar dengan diameter sekitar satu meter.
Di hadapan mereka, bertumpuk-tumpuk kacang mete mentah siap dipilah, diproses, dan diolah menjadi cemilan renyah yang lezat.
Dilansir dari Kompas, seperti hari-hari sebelumnya, Masiyah, Irma, dan Mola sibuk menyortir kacang mete yang dikirim dari Watulea, sebuah wilayah di Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. Masyarakat setempat lebih akrab menyebut daerah ini sebagai Lombe.
Masiyah sendiri tidak pernah secara pasti menghitung berapa banyak kacang mete yang ia sortir setiap harinya.
Satu hal yang pasti, dalam sebulan, tempatnya bekerja, UD Mubaraq, mampu memproduksi hingga 1,7 ton kacang mete matang.
Sekilas, proses penyortiran terlihat mudah, tetapi sebenarnya membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian.
Mereka yang sudah berpengalaman dapat dengan cepat membedakan mete berdasarkan tiga kategori kualitas, yakni super, sedang, dan pecah. Sementara itu, kacang mete yang sudah busuk akan langsung disingkirkan.
UD Mubaraq, tempat ketiga perempuan ini bekerja, merupakan salah satu produsen mete terbesar di Kelurahan Lahundape, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari.
Meskipun proses produksi mulai dari penyortiran hingga pengolahan dilakukan di Lahundape, kacang mete gelondongan atau yang masih berkulit terlebih dahulu dibersihkan di Lombe.
Muhaimin, manajer UD Mubaraq, menjelaskan bahwa kacang mete gelondongan yang disimpan di gudang Lombe dapat bertahan bertahun-tahun selama kelembabannya tetap terjaga. Setiap minggu, bahan baku dari Lombe dikirim ke Lahundape untuk diolah lebih lanjut.
"Dalam sebulan, kami melakukan produksi empat kali. Setiap sesi produksi rata-rata menghasilkan 400 ton kacang mete matang," ungkap Muhaimin.
UD Mubaraq didirikan sekitar tahun 1986 oleh Laode Mane. Kini, usaha ini telah berkembang dengan memiliki 15 karyawan tetap dan 10 karyawan paruh waktu, yang sebagian besar adalah mahasiswa.
