Dekke Na Niarsik: Kuliner Batak yang Sarat Makna Dekke Na Niarsik: Kuliner Batak yang Sarat Makna

Foto: detik

  • RAA
  • Selasa, 01 April 2025 - 10:40 WIB

Dekke Na Niarsik: Kuliner Batak yang Sarat Makna


Apa yang terlintas di benak kita saat melihat sepiring ikan yang telah dimasak dan siap disantap?

Pastinya menggugah selera dan ingin segera mencicipinya. Makanan yang sudah matang memang disajikan untuk dinikmati, tetapi bagi masyarakat Batak, ikan dekke na niarsi bukan sekadar hidangan biasa.


Hidangan ini memiliki nilai filosofis mendalam dan menjadi bagian penting dalam berbagai prosesi adat Batak.  

Melansir Telusuri, dalam tradisi Batak, dekke na niarsik melambangkan berkah kehidupan. Tidak hanya sebagai makanan sehari-hari, sajian ini juga hadir dalam berbagai upacara adat, mulai dari pernikahan, kelahiran, hingga penghormatan kepada leluhur.


Seperti halnya kimchi yang menjadi makanan wajib di rumah-rumah Korea, ikan mas arsik juga memiliki tempat istimewa dalam setiap keluarga Batak, khususnya di Sumatra Utara.  


Keunikan rasa dari ikan mas arsik berasal dari kombinasi bumbu tradisional seperti andaliman, asam gelugur, dan bunga rias atau kecombrang. 


Campuran rempah-rempah ini menciptakan perpaduan rasa asam, pedas, asin, dan gurih yang khas. Tak heran jika hampir semua lapo (rumah makan khas Batak) selalu menyediakan hidangan ini sebagai menu andalan.  


Makna Filosofis
Kuliner khas Batak memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan adat istiadat. Salah satu keunikan dekke na niarsik adalah jumlah ikan yang disajikan dalam prosesi adat memiliki makna tersendiri.

Satu ekor ikan melambangkan pasangan yang baru menikah, tiga ekor untuk keluarga yang baru memiliki anak, lima ekor untuk mereka yang dikaruniai cucu, sementara tujuh ekor hanya diperuntukkan bagi pemimpin suku Batak.  

Selain itu, tidak semua orang memiliki hak untuk memberikan dekke na niarsik dalam sebuah upacara adat.

Hanya hula-hula atau kerabat dari pihak perempuan, seperti ayah kandung istri, saudara laki-laki istri, serta komunitas marga dari pihak istri yang berhak memberikannya.  


Pemilihan dan Penyajian yang Sarat Aturan
Karena memiliki makna yang mendalam, pemilihan ikan mas untuk dekke na niarsik pun tidak boleh sembarangan. Ikan yang digunakan harus dalam keadaan utuh dari kepala hingga ekor, melambangkan kehidupan yang utuh dan keberlanjutan keturunan.

Ikan mas dipilih karena hidup di air jernih, memiliki umur panjang, serta dikenal sebagai ikan yang berenang beriringan, mencerminkan kehidupan yang harmonis.  

Dalam penyajiannya, ikan mas tidak boleh dipotong atau dibuang sisiknya. Ikan juga harus diletakkan dalam posisi seolah-olah sedang berenang, dengan kepala menghadap kepada penerima. Jika lebih dari satu ekor, posisinya harus sejajar sebagai simbol kebersamaan dan persatuan dalam keluarga.  


Kepercayaan masyarakat Batak juga menyebutkan bahwa ikan yang dipotong-potong bisa membawa ketidakharmonisan dan bahkan dianggap dapat menghambat keturunan bagi penerimanya.

Oleh karena itu, penyajian dekke na niarsik benar-benar mengikuti aturan adat yang sudah diwariskan turun-temurun.  

Hidangan khas Batak ini tidak sulit ditemukan, terutama di lapo yang tersebar di berbagai daerah, termasuk di kota-kota besar seperti Jakarta.

Bagi pecinta kuliner yang ingin merasakan makanan yang tidak hanya lezat tetapi juga kaya makna budaya, dekke na niarsik adalah pilihan yang tepat untuk dicoba.