Foto: linkedin
Kakao: Komoditas Perkebunan Bernilai Tinggi dan Persyaratan Budidayanya
Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) atau yang lebih dikenal sebagai tanaman cokelat merupakan salah satu komoditas perkebunan dengan prospek ekonomi yang menjanjikan.
Namun, produktivitas dan kualitas kakao sangat bergantung pada berbagai faktor, seperti kondisi tanah, iklim, hama dan penyakit, serta perawatan yang dilakukan.
Jika tanah terlalu padat dan kekurangan unsur hara, terutama hara mikro dan hormon alami, maka tanaman kakao tidak akan tumbuh optimal.
Melansir Mitalom, sebagai tanaman yang membutuhkan naungan dalam budidayanya, persiapan lahan dan penanaman tanaman penaung sangat penting sebelum menanam kakao.
Meskipun lahan sudah sesuai, tanpa naungan yang memadai, pertumbuhan kakao bisa terganggu dan sulit mencapai hasil yang maksimal.
Oleh karena itu, pemilihan tanaman penaung yang bernilai ekonomi juga dapat menjadi solusi dalam sistem budidaya kakao.
Wilayah yang Cocok untuk Kakao
Tanaman kakao umumnya tumbuh di daerah beriklim tropis, terutama pada wilayah antara 10° Lintang Utara hingga 10° Lintang Selatan. Namun, secara umum, perkebunan kakao tersebar di kawasan antara 7° LU hingga 18° LS. Faktor utama yang menentukan persebaran ini adalah distribusi curah hujan serta intensitas penyinaran matahari sepanjang tahun.
Indonesia yang terletak antara 5° LU hingga 10° LS memiliki kondisi yang sesuai untuk pengembangan kakao.
Beberapa faktor lingkungan seperti curah hujan, suhu, dan cahaya matahari memiliki peran penting dalam pertumbuhan tanaman ini.
Selain itu, karakteristik fisik dan kimia tanah juga berpengaruh terhadap kemampuan akar dalam menyerap unsur hara.
Ketinggian Ideal untuk Budidaya Kakao
Di Indonesia, kakao tumbuh dengan baik pada ketinggian tidak lebih dari 800 meter di atas permukaan laut.
Curah Hujan yang Dibutuhkan
Kakao memerlukan distribusi curah hujan yang merata sepanjang tahun untuk mendukung pertumbuhan dan produksi. Wilayah dengan curah hujan ideal untuk tanaman ini berkisar antara 1.100 hingga 3.000 mm per tahun. Jika curah hujan melebihi 4.500 mm per tahun, risiko penyakit busuk buah (black pods) akan meningkat.
Di daerah dengan curah hujan kurang dari 1.200 mm per tahun, kakao masih bisa ditanam, tetapi membutuhkan tambahan irigasi. Hal ini karena tanaman akan kehilangan lebih banyak air akibat penguapan dibandingkan jumlah air yang diperoleh dari curah hujan.
Berdasarkan tipe iklim menurut klasifikasi Koppen, kakao idealnya tumbuh di daerah beriklim Am, sementara menurut klasifikasi Schmidt dan Fergusson, tipe iklim yang cocok adalah tipe B.
Daerah dengan tipe iklim C kurang cocok untuk kakao karena memiliki periode musim kemarau yang panjang.
Jika melihat distribusi curah hujan di Indonesia, sebagian besar wilayah masih berpotensi untuk pengembangan kakao. Pola curah hujan yang stabil juga berkontribusi terhadap pola panen yang lebih konsisten.
Suhu Optimal untuk Kakao
Suhu udara sangat memengaruhi pertumbuhan dan produksi kakao, terutama dalam kaitannya dengan ketersediaan air, sinar matahari, serta kelembaban udara. Faktor-faktor ini dapat dikelola melalui pemangkasan, pengaturan tanaman penaung, dan sistem irigasi yang baik.
Suhu ideal untuk kakao berada di kisaran 30°C – 32°C untuk suhu maksimum dan 18°C – 21°C untuk suhu minimum. Kakao masih dapat tumbuh dengan baik pada suhu minimum 15°C per bulan.
Jika suhu terlalu rendah, misalnya turun hingga 10°C di bawah batas ideal, tanaman akan mengalami gugur daun dan bunga akan mengering, sehingga pertumbuhan menjadi lebih lambat.
Sebaliknya, suhu yang terlalu tinggi dapat mempercepat pembungaan, tetapi justru menyebabkan bunga cepat rontok. Suhu malam hari sekitar 23°C lebih ideal untuk mendukung pembentukan bunga dibandingkan suhu yang terlalu tinggi di siang hari.
Suhu yang tinggi dalam jangka waktu lama juga berdampak pada bobot biji kakao. Suhu yang lebih rendah cenderung menghasilkan biji dengan kandungan asam lemak tidak jenuh yang lebih tinggi dibandingkan suhu yang lebih panas.
Jika suhu terus meningkat secara ekstrem, tanaman muda bisa mengalami kerusakan pada pucuknya, sementara daun kakao masih mampu bertahan hingga suhu 50°C dalam waktu singkat. Namun, suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan nekrosis atau kematian jaringan pada daun.
Kebutuhan Cahaya Matahari
Kakao secara alami tumbuh di hutan hujan tropis, sehingga membutuhkan naungan agar tidak terkena sinar matahari secara langsung. Jika tanaman kakao mendapatkan terlalu banyak cahaya, batangnya akan lebih kecil, daunnya lebih sempit, dan pertumbuhan menjadi lebih pendek.
Pencahayaan yang optimal bertujuan untuk mendapatkan tingkat penyerapan cahaya yang maksimal dan luas daun yang ideal. Kakao termasuk dalam kelompok tanaman C3, yang berarti mampu melakukan fotosintesis dengan baik pada suhu rendah.
Fotosintesis paling efisien terjadi saat kanopi tanaman menerima sekitar 20% dari total cahaya matahari. Daun kakao akan mencapai titik jenuh fotosintesis pada tingkat pencahayaan 3% – 30% dari cahaya matahari penuh, dengan kondisi ideal sekitar 15%.
Jumlah cahaya matahari yang diterima juga berpengaruh terhadap pembukaan stomata pada daun. Jika pencahayaan terlalu intens, stomata akan lebih terbuka, sehingga meningkatkan laju transpirasi dan dapat menyebabkan tanaman kehilangan terlalu banyak air.
Kebutuhan Air dan Unsur Hara
Kakao sangat bergantung pada ketersediaan air dan unsur hara, terutama jika ditanam tanpa tanaman penaung yang melindunginya dari sinar matahari langsung.
Keseimbangan antara air dan nutrisi harus diperhatikan agar tanaman dapat tumbuh optimal dan menghasilkan biji dengan kualitas yang baik.
Secara keseluruhan, keberhasilan budidaya kakao sangat bergantung pada faktor lingkungan dan manajemen yang tepat.
Dengan kondisi iklim Indonesia yang masih sesuai untuk tanaman ini, kakao berpotensi untuk terus dikembangkan sebagai komoditas unggulan.
