Tradisi Pembuatan Gula Aren di Kampung Adat Kuta, Ciamis Tradisi Pembuatan Gula Aren di Kampung Adat Kuta, Ciamis

Foto: arahin

  • RAA
  • Kamis, 20 Maret 2025 - 10:01 WIB

Tradisi Pembuatan Gula Aren di Kampung Adat Kuta, Ciamis


Warga Kampung Adat Kuta, yang berada di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, tidak hanya melestarikan budaya leluhur tetapi juga memiliki mata pencaharian unik. Hampir separuh penduduk kampung ini berprofesi sebagai pengrajin gula aren.  

Dilansir dari Detik, Gula aren khas dari Kampung Adat Kuta sering dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan yang datang berkunjung.

Biasanya, gula dijual dalam satu bonjor, yaitu satu paket berisi 10 keping gula dengan diameter sekitar 10 sentimeter. Selain dalam bentuk cetakan tradisional, sebagian juga diolah menjadi gula semut.  

Melimpahnya Pohon Aren, Warisan dari Para Leluhur
Kampung ini memiliki ribuan pohon aren atau enau yang sudah ada sejak zaman dahulu. Warisan alam inilah yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memproduksi gula aren secara turun-temurun.  

Proses pembuatan gula diawali dengan menyadap air nira dari pohon aren menggunakan lodong (bambu).

Penyadapan biasanya dilakukan dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Setelah terkumpul, air nira kemudian dimasak menggunakan tungku tradisional.  

Proses pemasakan ini bisa berlangsung selama beberapa jam, dari pagi hingga siang hari. Ketika nira mulai mengental, adonan harus terus diaduk agar teksturnya merata.

Setelah itu, cairan gula dituangkan ke dalam cetakan bulat berbahan bambu. Setelah mengeras, gula siap dijual.

Pekerjaan yang Dilakukan Secara Turun-Temurun  
Karti (60), salah seorang warga, telah membuat gula aren sejak lama. Setiap hari, ia mengolah gula di rumahnya, sementara suaminya bertugas menyadap nira dari pohon aren. Selain sebagai pengrajin gula, mereka juga bekerja sebagai petani padi.  

"Setiap hari saya membuat gula, hasilnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ini sudah menjadi tradisi yang diwariskan dari orang tua," ujar Karti pada Rabu. Kepala Dusun Kampung Adat Kuta, Didi Sardi, menyebutkan bahwa dari 258 penduduk yang tinggal di 111 rumah panggung, hampir setengahnya adalah pengrajin gula aren.

Meskipun sebagian besar warga berprofesi sebagai petani, produksi gula tetap menjadi sumber pendapatan utama.  

"Gula aren biasanya dijual langsung kepada pengunjung sebagai oleh-oleh. Sebagian juga dipasarkan ke pasar lokal. Jika dijual langsung ke wisatawan, harganya lebih menguntungkan," ungkapnya.  

Ciri Khas Gula Aren Kampung Adat Kuta
Gula aren dari Kampung Adat Kuta memiliki rasa yang manis khas dan daya tahan yang lebih lama. Keunikan ini berasal dari penggunaan daun khusus dalam proses produksinya. Meskipun teknik pembuatannya masih tradisional, kualitas gula yang dihasilkan tetap terjaga.  

Selain digunakan sebagai pemanis alami, gula aren ini juga sering dimanfaatkan sebagai bahan bumbu masakan atau campuran dalam berbagai makanan dan minuman.
Dengan proses yang masih mempertahankan cara tradisional, gula aren Kampung Adat Kuta tetap menjadi primadona bagi pencinta kuliner khas Nusantara.