Gula Aren Berpotensi Tingkatkan Perekonomian Desa Ngesrep Gula Aren Berpotensi Tingkatkan Perekonomian Desa Ngesrep

Foto: cookpad

  • RAA
  • Sabtu, 08 Maret 2025 - 16:58 WIB

Gula Aren Berpotensi Tingkatkan Perekonomian Desa Ngesrep


Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengunjungi pusat produksi gula aren di Desa Ngesrep, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal.

Dalam kunjungan tersebut, ia menilai industri rumahan ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomian daerah serta menjadi destinasi wisata yang menarik.  

Dilansir dari Detik, menurutnya, harga gula aren dari industri rumahan ini mencapai Rp 25.000 per kilogram, dengan produksi harian yang berkisar antara 20 hingga 30 kilogram.

Bahan baku utamanya berasal dari air nira pohon aren yang dibeli dengan harga Rp 1-2 juta per pohon.  

Selain menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat desa, calon gubernur Jawa Tengah nomor urut 2 itu menilai bahwa sentra gula aren ini juga bisa dikembangkan sebagai objek wisata. 

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya dukungan dari pemerintah dalam bentuk pembinaan, pendampingan distribusi, serta pengelolaan yang lebih baik.  

"Industri rumahan seperti ini harus dikembangkan. Perlu ada bantuan dari dinas terkait agar distribusi bahan baku lebih lancar dan pengelolaan produk lebih maksimal.

Dengan begitu, gula aren bisa menjadi produk unggulan desa yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat," jelas Luthfi dalam keterangan tertulisnya, Selasa .

Ia juga mengusulkan agar sentra produksi ini dikemas menjadi desa wisata, seperti kawasan wisata teh di Medini yang telah menarik banyak pengunjung ke Kendal.  

"Potensi ini bisa kita kembangkan lebih jauh, menjadikan desa ini sebagai pusat wisata gula aren. Produk lokal seperti ini harus dipromosikan ke pasar yang lebih luas, baik di dalam negeri maupun internasional," tambahnya.  

Lebih lanjut, ia menilai bahwa desa wisata berbasis industri tradisional tidak hanya menarik wisatawan tetapi juga memperkuat identitas budaya serta perekonomian daerah.

Jika terpilih sebagai gubernur, ia berjanji akan kembali ke tempat ini untuk memastikan pengembangan industri gula aren berjalan dengan baik.  

"Kalau nanti saya terpilih, saya akan datang lagi ke sini. Kita harus mengurus ini dengan serius," tegasnya.  

Saat tiba di sentra gula aren, ia menyaksikan langsung proses produksi yang masih menggunakan cara tradisional.

Air nira direbus menggunakan luweng, yaitu tungku batu yang memakai kayu bakar sebagai bahan bakar utama.

Air nira dimasak dalam kuali tembaga berkapasitas 20 liter selama sekitar 10 jam hingga akhirnya berubah menjadi gula aren cair yang siap dicetak dan dipasarkan.  

"Prosesnya luar biasa, masih tradisional tapi kualitasnya sangat bagus," ucap mantan Irjen Kemendag itu.  

Sementara itu, Suparwoto, salah satu pengrajin gula aren di desa tersebut, menjelaskan bahwa usaha ini dijalankan dengan modal sendiri. 

Bersama sekitar 20 kepala keluarga lainnya, mereka tetap mempertahankan metode tradisional dalam pembuatan gula aren.  

"Kami membeli air nira dari petani dengan harga sekitar satu hingga dua juta rupiah per pohon, kemudian mengolahnya seperti ini," tutupnya.