Foto: bukalapak
Pengaruh Ketinggian terhadap Bentuk dan Rasa Biji Kopi
Tahukah Anda bahwa ketinggian tempat tumbuh tanaman kopi bisa memengaruhi bentuk dan karakteristik bijinya?
Melansir Sabani, kopi yang ditanam di atas 1.300 mdpl umumnya memiliki biji yang lebih padat dengan pola garis tengah yang lebih rapat dan berbentuk zig-zag.
Hal ini terjadi karena kondisi udara di ketinggian tersebut lebih lembap dan suhu lebih rendah, yang memperlambat pertumbuhan tanaman kopi.
Kopi jenis Arabika biasanya tumbuh di ketinggian ini, sehingga proses produksinya lebih lama dibandingkan jenis kopi lainnya.
Sebaliknya, kopi Robusta lebih fleksibel dalam hal ketinggian. Tanaman ini bisa tumbuh dengan baik di daerah yang lebih rendah, bahkan di bawah 800 mdpl.
Robusta memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap perubahan lingkungan dan penyakit tanaman dibandingkan Arabika. Karena itulah, Robusta dapat dibudidayakan dengan lebih mudah, bahkan di pekarangan rumah sekalipun.
Bagaimana Ketinggian Mempengaruhi Rasa Kopi?
Dalam buku The Little Coffee Know It All karya Shawn Steiman, dijelaskan bahwa tekanan udara di ketinggian tertentu berpengaruh pada pertumbuhan tanaman.
Hal ini telah dibuktikan dalam penelitian terhadap tanaman sayuran seperti selada dan lobak, yang menunjukkan reaksi berbeda terhadap tekanan udara rendah.
Menariknya, meskipun tekanan udara memengaruhi pertumbuhan tanaman, hal ini tidak selalu berdampak pada perubahan rasa kopi.
Justru yang lebih berpengaruh terhadap karakter rasa kopi adalah suhu wilayah tanam, yang dipengaruhi oleh ketinggian dan garis lintang lokasi tersebut.
Steiman menjelaskan bahwa suhu di daerah tinggi cenderung lebih rendah, sehingga memengaruhi proses pertumbuhan tanaman kopi.
Suhu yang lebih dingin menyebabkan pertumbuhan lebih lambat, yang memungkinkan biji kopi berkembang dengan lebih kompleks, menghasilkan rasa yang lebih kaya dan bervariasi.
Faktor Iklim dan Kesuburan Tanah
Tidak hanya suhu, faktor lingkungan lain seperti curah hujan dan sifat kimia tanah juga berperan dalam menentukan kualitas kopi.
Penelitian dalam sebuah jurnal menyebutkan bahwa semakin tinggi suatu daerah, maka semakin tinggi curah hujannya, sementara suhu udara menjadi lebih rendah.
Kondisi ini membuat tanah lebih subur dan mendukung proses penguraian bahan organik yang dibutuhkan tanaman kopi.
Selain itu, mengetahui komposisi kimia tanah sangat penting dalam menentukan lokasi penanaman kopi. Dengan memahami sifat tanah, petani dapat menyesuaikan dosis pupuk dan perawatan tanaman agar hasil panen lebih optimal.
Ketinggian Sama, Rasa Berbeda
Perbedaan suhu tidak hanya dipengaruhi oleh ketinggian, tetapi juga oleh garis lintang. Sebagai contoh, meskipun daerah di Hawaii dan Kolombia sama-sama memiliki wilayah dengan ketinggian 765 mdpl, suhu udara di Hawaii lebih sejuk dibandingkan Kolombia.
Hal ini disebabkan oleh lokasi geografis Hawaii yang lebih jauh dari garis khatulistiwa dibandingkan Kolombia.
Dari sini bisa disimpulkan bahwa meskipun kopi ditanam pada ketinggian yang sama, rasa yang dihasilkan bisa berbeda karena perbedaan suhu akibat garis lintang.
Semakin jauh suatu daerah dari garis khatulistiwa, semakin rendah suhu udaranya pada ketinggian yang sama.
Kopi yang tumbuh di atas 800 mdpl umumnya memiliki karakter rasa yang lebih kompleks, seperti keasaman yang lebih tinggi, aroma yang kaya, dan rasa yang lebih bervariasi.
Kopi dari daerah ini sering memiliki nuansa rasa seperti buah-buahan tropis, beri, jeruk, cokelat, hingga kacang-kacangan.
Sebaliknya, kopi yang tumbuh di dataran lebih rendah memiliki keasaman yang lebih rendah dan profil rasa yang lebih sederhana.
Karena pertumbuhannya lebih cepat, biji kopi ini tidak sempat mengembangkan kompleksitas rasa yang sama seperti kopi yang tumbuh di dataran tinggi.
Jadi, jika Anda menemukan kopi dengan cita rasa unik dan beragam, kemungkinan besar kopi tersebut berasal dari ketinggian di atas 800 mdpl.
Sementara kopi dari daerah lebih rendah cenderung memiliki rasa yang lebih kuat dan lebih pahit, dengan sedikit variasi rasa.
