Perubahan Iklim Dorong Harga Cokelat Perubahan Iklim Dorong Harga Cokelat

Foto: pixabay

  • RAA
  • Minggu, 16 Februari 2025 - 21:01 WIB

Perubahan Iklim Dorong Harga Cokelat


Perubahan iklim, seperti curah hujan yang tinggi dan suhu panas ekstrem, telah mengurangi produksi kakao secara signifikan. Hal ini menyebabkan harga bahan baku cokelat melambung tinggi.

Laporan terbaru dari organisasi amal internasional Christian Aid berjudul “Cocoa Crisis: How Chocolate is Feeling the Bite of Climate Change” mengungkapkan bahwa perubahan iklim telah berdampak buruk pada produksi kakao di Ghana dan Pantai Gading. Kedua negara tersebut merupakan produsen kakao terbesar di dunia.

Akibatnya, harga kakao melonjak hingga mencapai rekor tertinggi sebesar 12.605 dolar AS per ton pada Desember 2024, mengancam masa depan petani kakao yang menghadapi risiko besar. Dalam beberapa tahun terakhir, harga kakao telah naik hingga 400 persen. 

Climate Central juga melaporkan bahwa pada tahun 2024, perubahan iklim memperpanjang durasi hari dengan suhu di atas 32 derajat Celsius selama enam minggu di 71 persen wilayah penghasil kakao di Pantai Gading, Ghana, Kamerun, dan Nigeria. Suhu setinggi ini tidak ideal untuk budidaya kakao.

Perubahan iklim, seperti curah hujan tinggi dan suhu panas ekstrem, telah mengurangi produksi kakao secara signifikan. Hal ini menyebabkan harga bahan baku cokelat melambung tinggi.

Laporan terbaru dari organisasi amal internasional Christian Aid berjudul “Cocoa Crisis: How Chocolate is Feeling the Bite of Climate Change” mengungkapkan bahwa perubahan iklim telah berdampak buruk pada produksi kakao di Ghana dan Pantai Gading, dua negara penghasil kakao terbesar di dunia.

Akibatnya, harga kakao mencapai rekor tertinggi sebesar 12.605 dolar AS per ton pada Desember 2024, mengancam masa depan petani kakao. Harga kakao telah naik 400 persen dalam beberapa tahun terakhir.

Climate Central mencatat bahwa pada 2024, perubahan iklim memperpanjang periode suhu di atas 32 derajat Celsius selama enam minggu di 71 persen wilayah penghasil kakao di Pantai Gading, Ghana, Kamerun, dan Nigeria. Suhu ini terlalu panas untuk budidaya kakao.

Pola curah hujan yang tidak menentu di Afrika Barat selama musim panen juga berdampak buruk pada produksi kakao. Sementara Afrika Barat mendominasi produksi kakao global, Indonesia menempati posisi ketiga dengan kontribusi 11,4 persen dari total produksi dunia pada 2022, atau sekitar 667 ribu ton.

Policy Strategist CERAH, Wicaksono Gitawan, memperingatkan bahwa jika tidak ditangani, krisis iklim akan berdampak negatif pada industri cokelat Indonesia di masa depan. “Cokelat memiliki nilai ekonomi tinggi bagi Indonesia. Sulawesi Tengah adalah penghasil kakao terbesar di Indonesia, dengan produksi 128.154 ton dari total 720.660 ton pada 2022,” ujarnya dalam pernyataan, Sabtu (15/2/2025).

Ia menekankan bahwa negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, harus mengambil langkah serius untuk mengurangi emisi gas rumah kaca guna menjaga keberlanjutan industri ini. Wicaksono mencatat bahwa selain menjadi salah satu produsen cokelat terbesar di dunia, Indonesia juga memiliki pasar cokelat nasional yang besar.

“Aksi nyata pemerintah Indonesia untuk menurunkan emisi harus segera didorong guna melindungi mata pencaharian petani dan produsen cokelat nasional serta menjaga perekonomian,” tegasnya.