Petani Andaliman Danau Toba Sukses Kenalkan Andaliman Ke Pasar Internasional Petani Andaliman Danau Toba Sukses Kenalkan Andaliman Ke Pasar Internasional

Foto: republika

  • RAA
  • Rabu, 12 Februari 2025 - 10:23 WIB

Petani Andaliman Danau Toba Sukses Kenalkan Andaliman Ke Pasar Internasional


Di sekitar kawasan Danau Toba, terdapat sekitar 100 petani tradisional yang membudidayakan tanaman Andaliman. Salah satu di antaranya adalah Marandus Sirait, Ketua Kelompok Petani Andaliman di Kecamatan Lumbanjulu.

Melansir Tabloid Sinar Tani, para petani di wilayah ini semakin bersemangat dalam membudidayakan Andaliman, terutama setelah komoditas ini berhasil diekspor ke Jerman pada semester pertama tahun 2021 melalui Balai Karantina Pertanian. "Kami mulai membibitkan tanaman ini sejak 2017.

Awalnya, Andaliman hanya tumbuh liar tanpa ada pembibitan. Setelah saya melakukan penelitian, ternyata tanaman ini bisa dikembangbiakkan dengan stek pucuk atau cangkok," jelas Sirait.

Perjalanan Petani Andaliman Sebelum dan Setelah Pandemi
Pada 2019, petani mulai mengenalkan Andaliman ke pasar yang lebih luas, termasuk mengikuti berbagai pameran di luar negeri serta mengadakan ajang duta Andaliman agar semakin dikenal masyarakat. Sayangnya, ketika para petani bersiap menyambut panen raya di 2020, harapan mereka kandas akibat pandemi Covid-19.

"Selama pandemi, pasar tertutup dan pengiriman terhenti. Banyak kebun yang kami rawat akhirnya tidak terurus dan tanaman mati karena buahnya tidak dipanen. Jika buah dibiarkan di pohon, tanaman bisa mati," ungkapnya.

Sebelum pandemi, Sirait mampu menanam 1.000 batang pohon Andaliman, tetapi kini jumlahnya berkurang drastis menjadi sekitar 250-300 batang akibat kegagalan panen selama pandemi. Meski begitu, ia tetap berusaha memulai kembali pembibitan bersama para petani lain.


Tantangan dalam Budidaya Andaliman
Menurut Sirait, Andaliman hanya tumbuh optimal pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Oleh karena itu, wilayah di sekitar Danau Toba yang lebih rendah kurang cocok untuk budidaya tanaman ini.


Andaliman membutuhkan tanah lembap yang subur, serta perlindungan dari sinar matahari langsung, berbeda dengan tanaman seperti padi atau jagung yang bisa tumbuh di area terbuka.


Dari segi harga, per Juli 2021, andaliman segar dijual seharga Rp25 ribu per kilogram, sedangkan andaliman kering bisa mencapai Rp350 ribu per kilogram.

Ekspor Andaliman ke Pasar Internasional
Saat ini, Sirait dan kelompok petani mulai merintis ekspor Andaliman ke berbagai negara. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah pengiriman ke New York, Amerika Serikat.

Tetapi kurangnya pengalaman dalam prosedur ekspor dan minimnya pendampingan membuat mereka mengalami berbagai kendala dalam pengiriman ke luar negeri.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kembali melanjutkan ekspor Andaliman ke Eropa, khususnya ke Jerman. Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Belawan, Andi Yusmanto, menyebut bahwa ekspor ke Jerman ini merupakan pengiriman kedua dengan volume yang meningkat pesat dibandingkan ekspor pertama pada Maret 2021.

"Pada pengiriman perdana ke Jerman, kami mengekspor 574 kilogram Andaliman. Kemudian, pada Agustus 2021, jumlahnya meningkat menjadi 1.200 kilogram," jelasnya. Andaliman yang dikirim ke Jerman ini diproduksi oleh para petani di Kabupaten Samosir.

Keberhasilan ekspor ini membuka peluang besar bagi para petani Andaliman untuk memperluas pasar mereka ke tingkat global.

Dengan semakin meningkatnya permintaan, diharapkan budidaya Andaliman bisa berkembang lebih luas dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat di sekitar Danau Toba.